Bukan Surabaya yang Menitihkan Air mata, tapi Mata itu

Ingin sekali memejamkan mata, namun ada dorongan yang membuatku enggan. Aku yang sebenarnya tak ingin mengeluh. Berprasangka yang tidak-tidak.

Di balik sebuah kaca kereta api, ada seorang gadis yang enggan menangis di saat hatinya mulai meringkik. Mungkin tak bisa dikatakan seorang gadis lagi, dia adalah perempuan yang kerap memutuskan sesuatu tanpa direnungkan lebih dulu. Apalagi masalah hatinya yang lama terpaut akan hati si pemilik sebrang, sungguh tiada kata lelah di kamus hidupnya.

Ada berita baik untuknya, yang ia sempat ragu untuk memulai. Ia ingin sekali bersikap sewajarnya saja, namun egonya lebih tinggi. Rasa sayang yang ia pendam masih utuh.

Mau diapakan? Ya pasti ingin segera ia lampiaskan. Kata lampiaskan sedikit arogan bukan?

Ia tak pernah lelah, tak pernah ada kata sesal dalam goresan luka di hatinya. Nyatanya ia kini telah menginjakkan kaki di tempat asing. Sebenarnya ini adalah kota yang menyimpan kenangan akan ia dan si pemilik hati di seberang sana.

Namun yang sedang ia injak kini adalah tanah berbeda. Ia mencoba bertindak berani atau bahkan bisa diangap ceroboh. Ia kumpulkan sebanyak keberanian yang ia miliki. Ia menata hati, menata rasa, menata sikap agar tak ada keraguan.

Nyatanya ia mulai resah di saat penantian. Kakinya tak berhenti menghentak-hentak kecil. Tangannya tak lepas menggengam gawai miliknya. Pandangannya tak lepas dari gawai itu, bahkan sering menoleh ke sekitar.

Hingga akhirnya dengan berat hati, ia putuskan untuk menyerah. Menyerah sebelum sempat bertempur akan segala rasa yang berkecamuk dalam hatinya. Ia takut, ia tak kuasa.

Hingga ia meneguhkan hati kembali untuk melangkah pergi. Mengubur semua harapan yang sekian jam lalu membuatnya bersemangat. Membuatnya seakan mempunyai harapan baru. Namun nyatanya, nihil.

Ia duduk dengan segala kesal. Kesal berbalut tangis. Entah kenapa di saat seperti ini, bahkan hatinya mulai berontak. Namun tangis pelampiasan jua tak lepas.

Awalnya ia melangkah mundur dan pergi secara pasti. Ketika berada di kursi ini entah kenapa, tiba-tiba saja ia merakan sesak yang luar biasa.

Ia pernah merasakan hal ini sebelumnya. Sulit untuk meneteskan air mata, walau di dada berkecamuk berbagai tanya. Berbagai angan yang memang sebatas angan. Ia kesal, tapi tak ada alasan untuk membuatnya harus marah akan keadaan.

Surabaya, 7 April 2018

8 thoughts on “Bukan Surabaya yang Menitihkan Air mata, tapi Mata itu

    1. iya Nu nyesek-nyesek gimana gitu. Bingung mau kek gimana. Ah namanya juga hidup, apalagi kisah percintaan receh macam gini. Ah pengen bobo lagi wkwkwkwkw
      Maksh yaa Nu 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *