Mengenalkan Fabel yang Mulai Luntur pada Benak Siswa

Hallo selamat malam ….

Sepertinya sudah lama tidak menuliskan seputar dunia yang saya geluti. Saya sudah sedikit tenggelam dengan beberapa rutinitas yang memabukkan. Racun dunia memang. Sebenarnya banyak hal, seperti pengalaman dan pengetahuan baru akan dunia saya ini. Tapi, setiap kali ingin saya tuliskan, saya tergoda dengan ide-ide lainnya. Yang kata saya tadi, menggiurkan.

Baik kita langsung saja yaa.

Fabel. Masih ingatkan kalian dengan fabel? Tahukah kalian dengan fabel?

Yap, cerita binatang. Lebih spesifiknya cerita tentang kehidupan binatang yang berperilaku menyerupai manusia. Jadi fabel ini merupakan salah satu jenis cerita fiksi. Beberapa dari kita mungkin pernah membaca beberapa fabel di bangku sekolah dulu. Dulu saya sangat suka sekali membaca buku-buku cerita binatang. Apalagi jika diimbangi dengan gambar-gambar menarik nan beraneka warga.

IMG_20171223_093754

Nah teks fabel ini juga diajarkan dalam pelajaran bahasa Indonesia. Tentunya kan ya? kita dulu mengenal fabel juga dari pelajaran bahasa Indonesia. Kurikulum 2013 ini memang berbasis teks. Pada mata pelajaran bahasa Indonesia salah satu teks yang diajarkan ya fabel ini. Materi fabel ini diajarkan pada kelas 7 SMP, tepatnya pada semester genap. Saya sendiri mengenal dan mengampu materi teks ini ketika saya jadi tentor. Semasa KPL dulu hingga kerja saya selalu megang SMA. Jadi hal ini juga merupakan pengalaman baru bagi saya mengajar SMP.

Menurut saya fabel merupakan salah satu bab yang menarik, menghibur, dan menjadi media refreshing. Materi fabel ini tidak terlalu berat karena kita juga diajak untuk berimajinasi dengan membaca sebuah cerita binatang. Namun, hal berbeda justru saya temukan di lapangan.

Ketertarikan yang saya utarakan di awal tadi ternyata nihil untuk anak-anak. Saya nggak tahu mengapa mereka tidak terlalu tertarik dengan teks fabel ini, yang pikir saya ringan dan menyenangkan. Apa mungkin dikarenakan dalam lingkungan bimbel? jadi tidak sekondusif seperi di sekolah. Saya tak paham pasti.

Jadi sebelum memasuki materi inti, memang sebaiknya guru melakan suatu pemodelan. Diharapkan mereka tidak kaget dan dapat menerima pembelajaran kali itu dengan baik. Intinya mempersiakan siswa terlebih dahulu. Dikarenakan materi kali ini adalah fabel, saya pun bertanya mengenai konsumsi bacaan fabel mereka. Saya iseng-iseng tanya cerita binatang apa saja yang pernah mereka baca. Kenyataanya hanya ada satu hingga dua orang siswa saja yang pernah membaca fabel, itu pun mereka lupa isi ceritanya. Oke jadi saya ganti pertanyaannya, apakah di antara siswa ada yang pernah membaca cerita binatang Si Kancil Mencuri Timun. Jawabannya benar-benar mengejutkan, mereka tak pernah membancanya. Saya syok dong! Bukan hanya satu kelas, tapi beberapa kelas memang saya lakukan pemodelan itu, dan jawabannya hampir semua tak pernah tahu atau membaca fabel.

Saya heran, juga antara bingung dan nggak bisa terima. Masak di tingkatan mereka ini jarang atau tidak pernah membaca cerita binatang. Di SD dulu ada tidakkah pelajaran atau selingan apa pun begitu mengenai fabel ? Selain itu, apakah mereka jarang membaca buku-buku cerita? Hemm, entahlah saya tak tahu pasti.

Saya harus mengenalkan mereka dengan fabel. Bagaimana caranya?

Pertama kali, saya suruh baca fabel yang ada di buku mereka. Saya beri waktu sedikit lebih lama agar mereka menikmati bacaan yang nantinya akan menimbulkan kesenangan dalam membaca. Dan selang beberapa menit mereka sudah selesai.

Gini, yang saya keluhkan esensi dari membaca fabel sangat tidak terasa. Monoton, mereka hanya membaca kemudia ketika saya kasih pertanyaan mereka jawab. Tidak ada raut kesenangan pada mereka. Padahal di usia-usia mereka ini, dulunya berbagai bacaan ini memberikan kesan apik bagi pembaca. Entah mereka akan bertanya berbagai hal mengenai cerita tesebut, hal-hal apa yang membuat mereka tertarik, serta kesan-kesan mereka akan cerita tersebut.

Nihil! Jadi saya mengalirkan pikiran positif, saya mengajar di bimbel berbeda dengan sekolah. Faktornya, dengan waktu pembelajaran yang terbatas serta ketersedian media yang menunjang pembelajaran. Saya bisa pakai media, tapi tuntutan bimbel berbeda dengan di sekolah. Atau mungkin ya, mungkin ini adalah tahap pengelanan jadi ada semacam penyesuaian. Begitu?

Kalau saya sih tetap kekeh, saya pantang menyerah. Saya tak pedulikan bimbel atau sekolah, jadi di hari berikutnya saya bawa media hehe.

Kedua, saya membawa laptop sebagai media memutar film binatang. Ya saya gunakan media film saja. Saya memilih cerita yang menarik, kualitas film atau vidionya, serta durasinya yang tak terlalu panjang. Dengan waktu satu jam saya ingin mengenalkan lebih dekat dengan fabel. Supaya mereka jatuh cinta dengan beraneka macam cerita binatang yang sehat dikonsumsi otak, dikonsumsi apik untuk usia mereka. Kendalanya memang tak bisa optimal.Terkendala dengan waktu, begitu pula suasana pembelajaran. Bimbel terlalu gaduh untuk memudahkan siswa fokus akan film tersebut. Kabar baiknya, setidaknya mereka lebih memusatkan perhatian dengan materi ini yakni fabel.

Jadi begitulah saya mengenalkan fabel kepada siswa-siswa saya. Saya berkeinginan agar mereka melek akan bacaan-bacaan berbobot yang juga saya konsumsi zaman dulu. Agar mereka mengonsumsi bacaan yang sesuai dengan mereka. Setidaknya menjadi seliangan, bahkan pengalih untuk gawai mereka. Mengalihakan mereka dengan berbagai media sosial yang menggiurkan.

Saya prihatin! Dulunya ( lagi-lagi seperti membandingkan mereka dengan saya) setiap bacaan dalam buku pelajaran bahasa Indonesia selalu saya lahap habis. Saya tertarik dan saya suka membaca banyak cerita, walau saya belum paham materi terkait bacaan tersebut. Sekarang? mereka sama sekali tidak menyentuh cerita dalam buku pegangannya. Lebih tertarik akan gawai.

Baca Juga tulisan saya pada Kolom Citizen Reporter Harian Surya mengenai media Pop Up untuk mendongeng. MPLS Seru dengan Media Dongeng Pop Up.

Ini beberapa media film berkisah tentang binatang yang saya gunakan (sumber : youtube) :

  1. Serigala dan Tujuh Anak Domba.
  2. Seekor Tikus Kecil yang Ternyata Seorang Puteri.

Semoga tulisan berikutnya saya bisa membagikan skenario pembelajaran Teks Fabel. Semangat!

Ini PR nih bagi saya!

13 tanggapan pada “Mengenalkan Fabel yang Mulai Luntur pada Benak Siswa”

  1. Pergeseran selaera anak kali ya mba, padahal buat generasi 90an kaya kita, fabel adalah salah satu gambaran imajinasi yang begitu memberi kesan. Hheee

    Semangat terus mba buat ngenalin fabelnya.

  2. Pergeseran zaman kak. Jadi emang akan terjadi perbedaan antara generasi sebelumnya dg generasi selaunjutnya krn dipengaruhi berbagai macam perubahan yg ada

Tinggalkan Balasan