Romantisnya Bukit Delight Malang

Dari beberapa kalian pembaca setia blog ini (PD maksimal), mungkin sudah pada tahu bahwa sekitar dua minggu lalu saya kembali mungunjungi Malang. Saya sempat ke kos lama, bersua dengan beberapa teman yang masih stay di sana, jalan-jalan ke Matos karena lama nggak towaf di sana, pun saya dan ketiga teman saya mengunjungsi sebuah kafe versi mini dari Museum Angkut. Jika kalian belum tahu, boleh tengok kisahnya di sini.

Setelah tamasya icip-icip sembari berfoto-foto ria di Akalpa Cafe, kami berempat berpencar. Kedua teman saya kempus dulu, sedangkan saya dan Tutut akan memuaskan hasrat seorang wanita yakni belanja. Aye! Selain ada kepentingan lain, saya memang niat mau jalan-jalan dan belanja. Wajib A’in gitu hehe. Saya dapat sepatu yang jauh dari selera. Tapi, baru kali ini juga saya suka dan nyaman. Saya juga percaya diri gitu, makai di acara-acara rada resmi (read kondangan). Ok skip.

Memang hari itu saya harus segera pulang Blitar, tapi juga nggak mau berhenti gitu aja mainnya. Dalam arti, masak cuma nongkrong di Kafe doang, belanja kemudian pulang. Toh di Blitar juga bisa nongki-nongki cantik. Secara juga, kami belum terlalu puas dengan hanya nyatronin Akalpa aja. Terlalu biasa gitu, hampir sama dengan kafe pada umumnya. Selain itu, saya juga ngerasa nggak enak sama Tutut. Main ke Malang cuma gitu doang, udah gitu sehari doang dan langsung saya ajak pulang. Jeng-jeng, hingga akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan aksi main-main cantik.

Idenya juga dadakan kerana bingung mau nentuin tempat. Kami lansung janjian di tempatnya saja, masih dengan formasi yang sama juga. Saya nggak pernah ke sini sebelumnya, tapi tahu daerahnya. Saya suka kalau diajak main ke daerah ini. Hawanya sejuk, walau tak sedingin Batu. Tetep ngerasa dingin-dingin manja-lah. Semasa kuliah dulu, di sekitar kawasan ini memang jadi tempat favorit buat ngehabisin waktu bersama kawan. Entah itu hanya kumpul nan unfaedah banget (read ngebanyol dan ngegosip.

Tidar, ya kawasan Tidar. Kalian warga Malang atau anak rantau Malang pasti paham betul dengan kawasan ini. Dulunya hanya ada Cokelat Klasik Garden yang jadi tempat favorit nongki syantik dengan konsep outdoornya. Pemandangannya alami banget, disuguhi hamparan sawah berada di kawasan kafe ini. Kemudian banyak juga beberapa tanaman yang menghiasi kafe ini, nampak apik jadi perpaduan klop. Memang konsep taman sejati. Namun, yang sedang ingin saya bahas sih bukan kafe ini melainkan Bukit Delight Malang. Ngomongnya suka ke mana-mana dulu, maaf yeee.

Bukit Delight letaknya searah dengan Cokelat Klasik Garden. Sebelum Cokelat Klasik Garden, sebelah kanan jalan kalau kita dari arah pasar Merjosari. Lokasinya memang berada sedikit di kawasan dataran tinggi, walau nggak sampai Batu. Kawasan ini bagi saya merupakan surga di tengah hiruk pikuk Malang, adem. Konsep kafe ini sih hampir serupa dengan Cokelat Klasik Garden. Outdoor, dengan hamparan pematang sawah nan luas, berasa di atas bukit karena memang kita berada di ketinggian tertentu. Jangan ditanya, pemandangannya indah. Apalagi di malam hari, kita melihat pemandangan dari atas bukit heem sangat indah. Cucok meyong gitu.

Ada dua konsep pada kafe ini, indoor dan outdoor. Yang dimaksud indoor di sini letaknya persis setelah kita memakiran kendaraan. Konsepnya memang bukan sebuah bangunan tembok, ya bangunan kayu dengan penutup alias genteng. Bangunan sederhana. Pun dengan penarangan baik. Itu yang bagian atas atau bagian indoor-nya. Sedangkan kami memilih untuk konsep kedua. Kita menuruni beberapa anak tangga. Rumput hijau dengan langit sebagai atapnya #ceileh. Kursi-kursi kayu menambah kesan alam nan syahdu.

Konsepnya memang mengasyikkan, kalau kata pelayan di sana suasanya romantis. Iya memang sih, dengan beberapa kursi kayu dan penerang lampu kuning nan syahdu. Penerangan yang tak terlalu terang, kuning-kuning keemasan, memang mampu menimbulkan kesan romantis. Saya diajak ke sini ya sumringah ria dong. Seneng banget. Nikmatin konsep kafe atau tempat nongkrong dengan sensasi berbeda. Seperti tiada batas, tak terhalang berbagai tembok yang bagai putri terkurung dalam sebuah menara #tahulah. Luas, pandangan serasa luas terhampar. Tiada batas #dilebay-in.

Kami tidak memesan banyak menu.Jadi kali ini, postingan saya bisa disebut ala kadarnya he. Dikarenakan kami tidak pesan banyak, jadi saya tidak bisa secara utuh review menunya. Diburu waktu juga karena kala itu kami ke sana sekitar pukul 5-an sore. Dan setelahnya saya harus bergegas balik Blitar, jadi tidak punya waktu lama meniktinya hiks sedih.

Lemon Tea hangatnya endes

Namun, waktu sesingkat itu sudah memberikan salah satu kesan tak terlupakan. Kami menikmatinya dengan bersendau guru, menuntaskan rindu pastinya, serta tak lupa berpose di tempat romantis ini. Bukankah berarti hamparan sawah ladang dan langit sebagai atapnya itu, menjadi saksi bisu kebersamaan kita. Syantikkk.

Info lengkapnya :

Lokasi :

JL. Joyo Agung No.1, Merjosari, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65144.

Harga :

Kisaran menu baik minum atau makanan 15-20 ribu saja.

14 thoughts on “Romantisnya Bukit Delight Malang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *