Ketidakefektifan Ceramah dalam Pembelajaran

Sumber : google

Tulisan mengenai pengalaman mengajar, kembali saya rangkum pada postingan berikut….

Gregeten sih, segera pengen cepet-cepet ketulis aja.

Pertama kali saya merasa bersalah. Saya berasa telah melakukan hal kurang baik. Nggak bisa memberikan terbaik untuk siswa-siswa saya.

Begini, beberapa minggu ke dapan anak-anak menempuh UKK (Ujian Kenaikan Kelas) atau lebih dikenal dengan UAS. Dari jenjang SD sampai SMA, bahkan ada beberapa sekolah yang melaksanakan ujian selama 3 minggu (waw). Ini untuk sekolah yang menerapkan ujian berbasis komputer atau CBT. Otomatis, jadwal mengajar bimbel rada padat. Saya harus bagi-bagi jadwal ngajar di dua bimbel tempat saya bekerja. Siswa akan meminta jam tambahan, yang jadwal itu berbeda dengan jadwal paten sebelumnya. Di sini saya merasakan keruwetan, mumet bagi-bagi waktu haha.

Pun, saya kebagian jadwal ngajar di kelas berbeda. Ya, mungkin saking riwehnya bagi-bagi waktu agar semua siswa dapat tambahan. Hari ini saya dapat dua kelas yang belum pernah saya pegang. Saya rada kesulitan aja karena sebelumnya kita belum bersua. Bagi saya sebuah tantangan sih. Semisal, biasanya mereka dipegang oleh tentor ini. Di lain kesempatan saya yang mengajar, pasti ada sesuatu yang berbeda. Misalkan lagi, jika penyampaian materi saya sama tentor lain beda (bukan materi ya, lebih ke pengajaran) butuh juga yang namanya penyesuaian. Jika anak tersebut tak ada permasalahan mah tinggal melanjutkan. Saya tinggal menambahi saja, mengulang materi. Seperti tadi sore, saya baru pertama megang privat kelas 7 SMP. Besok mereka ujian bahasa Indonesia. Kami hanya mengerjakan soal dari sekolah mereka. Diselengi dengan pembahasan sembari pengingat pembelajaran lalu. Alhamdulillah lancar.

Nah beda halnya dengan ini. Ini nih yang buat saya ngerasa bersalah nggak karuan. Gini bener ya…

Saya dapat kelas beda lagi. Ini juga privat sih, anak kelas XI. Jadi dari perbincangan di sela-sela kita belajar, si anak ini memang baru-baru ini aja masuk. Dia hanya mengikuti kelas selama ujian. Nggak paham sih sistematikanya gimana. Kebetulan siswa saya ini laki-laki. Dikarenakan jadwal yang diberikan hari ini dadakan, saya nggak nyiapin soal. Ah ini memang kesalahan saya juga sih. Dari beberapa kelas kemarin sih anak-anak mengerjakan soal dari buku mereka sendiri. Kebanyakan dari siswa saya memiliki buku pegangan (LKS) yang di dalamnya juga banyak soal setiap selesai bab. Nah soal-soal tersebut nggak pernah dikerjakan di sekolah. Ya paham juga sih, jikalau pelajaran bahasa Indonesia tugasnya udah banyak. Kalau nggak analisis teks, mencipta teks, dan masih banyak lain. Intinya sibuk, jadi nggak sempat bahas soal. Maka dari itu saya nggak buat soal, hanya mengandalkan LKS yang mereka punya.

Balik lagi pada permasalahan awal. Ya karena salah saya juga sih, jadi di jam bimbel tadi saya kasih soal dadakan. Itupun esai karena si anak nggak punya buku sama sekali. Ditambah dia cerita di sekolah nggak pernah dikasih materi, alias sang guru nggak pernah jelasin materi. Cuma tugas bertubi-tubi. Jikalau dia memahami materi selama tugas itu sih nggak masalah, lha ketika dia hanya monoton ngerjain tugas doang tambah nyesek #syedih. Kasihan sih, udah mau ujian harus mati-matian memahami materi. 4 bab sis, mayanlah.

Bikin bersalahnya daku di sini…

Selama satu jam itu saya kasih 7 soal. Di dalamya sih soal-soal sederhana yang bertujuan mancing materi-materi tersebut. Hemm nyatanya dia buka google dong. Nah materi dari google kan ya gitu-gitu, nggak bisa diklarifikasi kebenaran pasti. Saat mencocokkan jawaban, saya bahas materi dari bab awal sampai akhir. Kasihan, dia cuma dengerin nerocosnya saya dari awal sampai akhir. Bersalahnya, dia harus dengerin ocehan saya dengan materi seambrek dengan waktu sepadat itu. Kelihatan sih dia rada mumet, puyeng kali materi dari awal sampai akhir saya ringkas sedemikian rupa. Udah saya padetin, saya cuplik bagian penting-penting aja. Masalahnya, dia sama sekali nggak punya gambaran dari awal mengenai materi tersebut. Jadi, otomatis akan muncul rasa bosan. Dia hanya mengulangi saja apa yang saya ucap, entah paham atau tidak. Saya juga mikir sih, ternyata dengerin ocehan guru bertubi-tubi itu pusing. Nggak efektif dalam pembelajaran. Sistem full ceramah itu bukan solusi apik dalam suatu pembelajaran.

Pun, saya mendengarkan ocehan dari siswa-siswa lain ketika di sekolah. Mereka hanya sering mendengar tanpa praktik lebih jauh. Praktiknya ya tugas. Padahal dalam kurikulum 2013, salah satunya yakni anak-anak diajarkan untuk mandiri. Menemukan permasalahan dari suatu teks yang mereka analisis. Guru hanya sebagai fasilitator saja, yang berperan lebih banyak malah siswa. Yang juga diimbangi peran guru dalam memberikan pemodelan atau contoh terlebih dahalu. Nah dari situ, guru pun juga menyisipkan materi-materi. Peran lainnya yakni kreativitas guru juga. Menghidupkan kelas agar pembelajaran tak monoton. Di sini peran media pembelajaran juga membantu. Jadi, bukan hanya tugas tanpa adanya pembahasan bersama. Kek PHP aja #syakit. Poin utamanya juga, anak-anak nggak selamanya hanya mendengarkan celotehan sang guru. Sudah selayaknya mereka belajar mengungkapkan pendapat, aktif dalam kelas. Jika guru adalah komponen utama yang menguasai kelas, bagaimana siswa tersebut akan berkembang?

Tulisan ini bukan maksud apa-apa sih, belum tentu saya juga lebih baik dalam mengajar. Siapa tahu jiwa muda ini yang membuat saya berapi-rapi saat ngajar. Masih kuat lan semangat. Dan nggak semua pengajar seperti itu. Banyak pengajar-pengajar keren kok. Mohon maaf jika ternyata tulisan ini terkesan menganggap bahwa saya paling bisa, nggak pernah salah. Ah, saya aja masih sering engkel-engkelan jawab soal sama anak-anak hoho.

Gemesh banget deh rasanya. Andai ujian dia bukan besok, mau saya kasih tambahan. Tadi sih udah molor waktunya, tapi dia kelihatan udah bosen sih. Hiks…..

11 tanggapan pada “Ketidakefektifan Ceramah dalam Pembelajaran”

  1. Ternyata gak cuman sistem SKS ala siswa, tapi ada juga Sistem kebut Mengajar. Hhaaa

    Wah, itu anak datang dari sekolah yang masih baru pa gimana mba? Kok pelajarannya bisa keteteran gitu?

    1. Lama sih mas, cuma yg aku denger sistem pembelajaranya pakai Sks macam anak kuliah. Jadi dia sama temen satunya itu nggak selalu sama materinya. Kalau dia cepet ya lebih unggul dari temennya. Cuma ya itu guru kurang bisa bagi waktu…

      Kalau yg lain2 sih, ya kan tiap guru beda sih mas. Ada yg malas ngajr sukanya kasih tugas, atau sbalikny. Ya uwong bedo2lah yaa hehe

  2. 😀 sebentar mbak. Saya masih baca 1 kali. Tulisan ini. Tapi yang saya tangkap bukan ketidak efektifan ceramah dalam pembelajaran, tapi lebih ke…..kekurangan menggunakan 1 metode belajar … Wkwkkw ya g se?

    1. Di situ poin saya menceritakan bagaimana dalam satu hari itu saya cuma ceramah doang, soalnya ngejar materi dia yg belum pernah diajari di sekolah. Begitu….
      Kemudian jdi nyerembet ke mana mana, misal saya kash contoh2 lain

  3. Teringat waktu aku sekolah zaman Orba dulu. Pembelajaran dalam kelas, mulai SD sampe SMA ya one way aja. Murid dengerin, guru ceramah. Guru ditarget mesti ngelarin materi based on kurikulum, yang ada dia ceramah panjang kali lebar gak mempedulikan murid yang udah mulai gelisah bosan dan rame sendiri. Karena kan tujuan dia yang penting target penyelesaian materi tercapai. Hiks hiks 🙁 Belum lagi sistem hafalan saklek yang gak memberi ruang siswa untuk eksplor jawaban soal ulangan/ujian. Ah sudahlah…kusemakin sedih 🙁

  4. ini tantangan bagi pelajaran pelajaran non eksakta sih. kalo eksakta gitu bisa langsung digerojog soal soal hitungan. jadinya semacam belajar dengan mencoba. kalau non eksakta gitu mau nggak mau harus nerangin.

Tinggalkan Balasan