Bahasa dan Sastra sebagai Pewaris Nilai Luhur Bangsa

58f6f442b6a282a8f09a6b279f7c1cf0
Sumber : Pinterest.com

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang beragam akan kekayaannya. Baik sumber daya alam, sumber daya manusia, budaya, bahasa, dan seluruh komponen yang beragam di dalamnya. Mengenai budaya, kehidupan manusia memang erat kaitannya dengan budaya. Proses pembentukan budaya telah berlangsung berabad-abad lalu hingga terbentuklah suatu komponen yang disebut dengan jati diri. Di dalam jati diri tersebut terkandung kearifan lokal. Seperti halnya Indonesia, bangsa dengan terdiri dari beribu-ribu pulau ini menyimpan pula jati diri sebagai penggambaran budaya di setiap daerahnya. Budaya yang beragam itu pula yang kemudian menjadi satu kesatuan sebagai identitas bangsa. Sebut saja nilai luhur bangsanya sendiri. Nilai luhur tersebut yang berkembang seiring manusia tersebut ada sampai sekarang. Salah satunya adalah nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila.

Akan tetapi nilai luhur atau jati diri bangsa di era sekarang semakin mengalami kemerosotan. Pudarnya jati diri sebagai simbol kebudayaan itu mulai luntur tergerus zaman. Era dengan semakin mudahnya budaya asing masuk serta pula peran teknologi yang makin berkembang seperti wabah. Budaya lokal yang sesuai dengan karakter bangsa semakin sulit dicerna. Sementara itu, budaya global lebih mudah merasuk. Pencerminan budaya lokal misalkan saja cerita rakyat, lagu daerah, ritual kedaerahan, adat istiadat daerah, dan segala sesuatu yang bersifat kedaerahan. Maka dari itu, perlu adanya suatu wadah demi mengontrol wabah negatif tersebut. Salah satunya dengan mengintregasikan budaya lokal ke dalam pembelajaran bahasa dan sastra sungguh amat penting. Hal ini dilakukan dalam upaya penanaman nilai-nilai yang terkandung dalam budaya lokal dan sekaligus memperkecil pengaruh negatif budaya luar khususnya budaya barat.

Salah satu masalah utama dalam bidang pendidikan dan kebudayaan adalah kemorosotan identitas bangsa. Derasnya arus globalisasi dikhawatirkan berdampak pada budaya bangsa, pun dengan jati diri merupakan aset berharga bangsa kita. Fenomena anak usia sekolah yang mudah sekali terjangkit budaya luar tanpa memilah atau adanya kontrol dari sekolah dan keluarga, menjadi satu ancaman serius. Derasnya arus globalisasi dikhawatirkan dapat mengikis rasa cinta kepada tanah air, terhadap budaya lokal yang merupakan warisan leluhur. Desakan oleh budaya luar mengintimidasi kearifan lokal tersebut. Generasi cenderung menaruh perhatian lebih kepada budaya barat dibandingkan dengan budaya sendiri.

Contoh dalam kehidupan sehari-hari yakni, lebih suka menggunakan bahasa asing, bahasa kekinian dalam media sosial. Hal tersebut jika dilakukan terus-menerus akan berdampak buruk pastinya. Selain itu, dikarenakan perkembangan teknologi juga menjadikan musuh bagi kita yang kurang bijak dalam memanfaatkannya. Budaya luhur tersebut semakin hilang, semakin luntur. Sering kita temui, bahwa generasi sekarang lebih suka bermain dengan media sosial daripada berinterkasi lewat permainan tradisional. Mereka cenderung menghabiskan waktu sendiri dengan fokus di depan layar daripada bermain di luar (alam bebas). Pun, sekarang ini budaya membaca semakin luntur. Menjadi lebih tertarik melihat suatu tayangan dalam internet daripada membaca buku. Ada banyak konten media sosial yang masih banyak memberikan pengaruh positif, namun ada pula yang negatif. Justru kenyataannya konten-konten yang kurang berkenan tersebut lebih sering dan lebih mudah untuk diakses.

Kurikulum berperan penting dalam pelaksanaan pendidikan karena di dalamnya terumuskan tujuan yang hendak dicapai, materi pembelajaran, cara yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran, serta penilaian untuk mengetahui ketercapaian tujuan. Termasuk dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Salah satunya dalam penerapan kurikulum 2013 yang bukan hanya menekankan pada keberhasilan atau ketuntasan peserta didik dalam suatu indikator pengetahuan dan keterampilan saja. Satu komponen lagi yang tak boleh dikesampingkan adalah faktor sikap. Indikator sikap justru menjadi salah satu pokok utama dalam suatu pembelajaran, terlebih pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.

Sastra erat kaitnnya dengan kehidupan sosial. Maka seharusnya pembelajaran sastra tersebut bersumber dari kehidupan sosial. Seperti halnya novel, cerpen, puisi yang tak jarang menggambarkan kehidupan sosial. Memerluas pengetahuan hidup dan kehidupan. Dengan begitu anak dapat memeroleh pengalaman hidup dari mendengar ataupun membaca karya sastra. Selain itu, dalam pembelajaran sastra anak dapat mengungkapkan ide, gagasan, atau pandangan pengarang yang tercermin di dalam karyanya. Karya sastra juga bermanfaat untuk mengasah kepekaan rasa. Nilai-nilai tersebut dapat dituangkan dalam sebuah karya sastra yang diharapkan sebagai media apik dalam suatu pembelajaran.

Tujuan pembelajaran sastra itu sendiri sebagai salah satu pewaris kebudayaan. Bangsa Indonesia dengan pencapain saat ini sudah tercatat dalam sebuah karya, pun lewat bahasa. Sastra sebagai pencapaian kemampuan kreatif serta bentuk apresiasi. Jadi dengan sastra tersebut kreativitas siswa diasah. Pun sebagai apresiasi atas suatu pencapaian. Misalkan saja, menulis puisi atau cerpen. Lewat kreativitas masing-masing lahirlah karya-karya mereka (mencangkup idikator mencipta). Pun, mereka akan mempresentasikan karya mereka (mencangkup indikator mendemonstrasikan atau menyampaikan). Di sinilah guru dan siswa lainnya akan memberikan respon atau apresiasi. Adapun beberapa manfaat dari pembelajaran sastra, (1) membantu keterampilan berbahasa, (2) meningkatkan pengetahuan budaya, (3) mengembangkan cipta dan rasa, dan (4) pembetukan karakter.

9 thoughts on “Bahasa dan Sastra sebagai Pewaris Nilai Luhur Bangsa

  1. Hi vera!

    aku suka tulisanmu.

    kami pernah bahas ini di kelas, jadi memang foreign language bisa endangered local language. tapi menurutku, foreign language juga penting, karena kita hidup di era global.

    dan upaya agar bahasa lokal kita tidak punah, aku juga setuju dengan rekomendasi yang harus kita lakukan di dua paragraf terakhir yang kamu tulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *