Budaya Unik Mengantre Tiket Kereta Api Lokal

Sesuai dengan judulnya, saya akan sedikit memberikan gambaran uniknya mengantre tiket kereta api lokal seperti apa. Terkhusus di kota saya sendiri, Blitar. Ini adalah fenomena menarik yang ingin saya bagi di blog. Membagikan beberapa informasi yang mungkin dibutuhkan oleh calon pengantre tiket. Berikut gambaran budaya antre tiket kereta api lokal yang saya rekam.

Antre tiket kereta api lokal akan segera menjadi salah satu rutinitas saya dikarenakan ini adalah transportasi utama saya Blitar-Malang dan sebaliknnya. Dari zaman kuliah dulu saya memang lebih memilih kereta api daripada bus. Alasannya nyaman, pun semakin bertambah baik fasilitas yang diberikan oleh pihak KAI. Cuma, untuk satu ini mungkin kamu nggak begitu telaten. Antre tiket, ya apalagi untuk pemesanan tiket kereta api lokal.

Minat tiket kereta api lokal ini memang nggak pernah surut. Seperti yang sedang saya lakukan. Di saat menulis postingan ini, saya memang berada di stasiun mengantre tiket.

Dikarenakan penumpang kereta api ini banyak, nomor antrean memang digunakan untuk pemesanan. Untuk pemesanan KA lokal memang hanya dilayani di stasiun saja. Tidak bisa memesan secara daring. Ini adalah sepahaman saya ya. Kereta lokal ini dimaksudkan hanya tujuan seputar Blitar-Surabaya, kereta api penataran atau dhoho penataran.

Saya akan memberikan gambaran pemesanan di kota saya.

Pemesanan kereta api lokal ini bisa dipesan satu minggu sebelum keberangkatan. Usahakan pemesanan tak terlalu mepet dengan keberangkatan karena memang tempat duduk dibatasi. Bisa saja mendapat tiket berdiri, tapi untuk jarak Blitar-Surabaya hampir 4 jam lamanya kan lumayan gempor berdiri hehe. Jadi, berbondong-bondong mengatre sejak jauh-jauh hari adalah pilihan tepat.

Budaya uniknya di sini, calon penumpang datang ke stasiun sejak pagi hanya untuk mendapatkan nomor antrean. Sebelum pukul 8 pagi kursi-kursi di stasiun ini sudah dipastikan penuh dengan calon pemesan tiket. Jika biasanya kita datang langsung mengambil nomor antrean, di sini nggak bisa sembarangan. Ada banyak ibu-ibu bakalan melototin kita hehe. Siapa cepat dia dapat, motto itu berlaku. Siapa yang datang lebih pagi, dia yang berhak dapat nomor antrean awal.

Demi mengantisipasi bentrok antar calon penumpang hanya karena rebutan nomot antre, entah kapan budaya ini mulai muncul. Sejak pukul 6 atau bahkan lebih pagi, sudah ada calon pemesan yang datang. Aturannya (aturan dari mana ya, muncullah kesepakatan yang jadi budaya nih), setiap yang datang duluan akan duduk di bagian depan. Ya, jadi antre tergantung dengan tempat duduk. Setiap orang akan berjajar sesuai waktu kedatangannya, lalu menempati kursi. Yah dulu kalau kita sekolah seperti cepet-cepetan cari bangku depan sendiri atau tempat strategis. Bedanya di sini, cari tempat duduk dulu biar dapat nomor antre. Jadi, bisa dipastikan kalian yang datang lebih siang akan mendapatkan nomor-nomor akhir.

Mereka rela duduk berjam-jam demi mendapatkan nomor antrean, belum mendapatkan tiketnya lo ya. Petugas akan membagikan nomor antrean kepada calon pemesan, mulai dari depan karena dia sudah pasti datang lebih pagi. Begitulah faktanya. Dimana mesin antrean otomatis ini tak begitu berfungsi, kecuali untuk nomor antrean pemesanan KA non lokal (non Blitar-Surabaya).

Saya juga main ikutan budaya ini karena pernah suatu waktu saya datang pukul 8 kurang, saya dapat nomor 100 an lebih. Padahal, pemesanan juga baru bisa dilayani pukul 9. Berjam-jam dari pagi-pagi buta benar diperjuangkan. Perjuangan sekali hanya untuk mendapatkan tiket kereta api.

Salut sih, budaya ini mengajarkan untuk nggak egois. Tertib dan saling menghargai. Mengajarkan pula perjuangan dari sebuah sabar hehe.

Semoga bermanfaat terkhusus warga Blitar ya, soalnya sering saya dapati calon pemesan harus menelan kecewa. Mereka dapat nomor antrean panjang, pun ntar belum tentu dapat tiket. Lebih baik, mendatangi bagian CS untuk mengetahui ketersediaan tiket. Atau bisa dilihat di layar utama jumlah ketersediaan tiket tanggal yang kamu inginkan . Daripada sudah terlanjur antre lama-lama kan ya.

Semoga bermanfaat…

17 thoughts on “Budaya Unik Mengantre Tiket Kereta Api Lokal

  1. Pernah sekali kehabisan tiket Penataran
    Pas lagi di Mojokerto
    Mau balik ke Surabaya
    Ya emang pas itu peak season sih
    Dua hari setelah lebaran
    Kirain bakal gampang ternyata susahhh
    Heuheuheu

  2. Ini nih jeleknya sistem untuk kereta api lokal. Masih harus antre. Tapi ya gimana, tarifnya murah. Kalau dijadiin online, malah mahal biaya adminnya nanti. Hahaha.
    Aku tuh salut sama Kak Vera. Lagi ngantre, bisa bikin satu tulisan+bikin header. Keren!

  3. Buset ya itu budaya mengantrinya :’ bener-bener harus ekstra pagi untuk dapet no antrian cepet. ._. saya antri memperpanjang STNK saja sudah harus berangkat jam setengah delapan, padahal layanan dibuka jam 8. itupun, sudah di antrian ke sekian. Guwd

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *