Dibalik Sebuah Tulisan

Hai selamat sore….
Seperti judulnya, tulisan kali ini akan berisi curahan hati dibalik proses menulis yang saya tekuni.

Menulis itu nggak gampang, tapi bukan berarti kalian tak bisa menulis. Hanya butuh pembiasaan dan niat buat terjun ke dunia menulis. Apalagi kalian yang terjun di dunia blogger seperti saya. Saya berbicara bukan karena saya menganggap menjadi blogger ternama, bukan pula blogger serba tahu, ataupun ahli dalam bidangnya, namun hanya sebagai bergbagi pengalaman saja. Saya juga sedang menekuni dunia ini sejak setahun lebih ini, yang tentunya masih perlu banyak hal yang harus saya pelajari.

Baca Juga : Alasan Saya Menulis

Menghasilkan suatu karya itu bukan suatu yang mudah. Menurut saya, karya yang besar itu ditunjang dengan proses yang panjang. Dibalik suatu karya ada porses di dalamnya. Bukan suatu yang instan, sim salabim jadilah. Tak emudah itu. Kadang kala saya suka sedih sih jikalau hasil tulisan milik saya nggak dibaca. Bukan karena saya meminta atau memaksa mereka harus membaca tulisan milik saya, harus menghargai setiap apa yang saya tulis, meminta apresiasi, bukan seperti itu. Tapi, cobalah untuk terbuka dan peka terhadap sekitar. Contoh kecilnya, saya suka membagikan tulisan mengenai beberapa hal. Setiap selesai saya tulis selalu saya post di media sosial. Nah, ternyata apa yang saya gemborkan tersebut tak pernah dibaca. Dan ujung-ujungnya bertanya hal sama pada saya. Ini sih yang bikin saya suka risih dan merasa sia-sia hiks.

Membaca juga harus menjadi perhatian khusus. Budaya membaca yang rendah, buat saya kini sangat mengganggu. Apa yang dihasilkan dalam tulisan itu biasanya informasi-informasi penting. Namun, justru luput dari perhatian. Saya suka sebel jika ada beberapa kawan yang sering bertanya, tanpa membaca keseluruhan hal yang saya bagikan. Semua proses yang dilalui sampai menghasilkan tulisan yang layak terbit itu pun panjang. Suka sedih dan nggak habis pikir, jika banyak dari mereka yang tak benar-benar membaca tulisan kami. Apalagi ini, yang bikin ngelus dada, mengkopi tulisan tanpa permisi. Walau saya nggak mengalami sesering itu, tapi fenomena itu cukup risih bagi kami seorang penulis atau blogger.

Kira-kira begitulah hal yang suka saya sesalin dan keluhkan.

Janganlah kita meremehkan beberapa hal yang nyatanya kita juga nggak menekuni dunia itu. Jadi, menghargai karya orang cukup membuat sang empunya bahagia. Saya sendiri walau sudah sering nulis, mengakui menulis itu butuh kebiasaan. Latihan, latihan, dan latihan.

Baca Juga : Lawan Malas Menulis

Ini dia beberapa proses yang biasanya saya lakukan dibalik lahirnya sebuah tulisan.

Seringnya mendapatkan ide secara tak terduga. Seperti ide tersebut bertamu tanpa permisi. Dan biasanya agar saya nggak lupa, saya segera menuliskannya pada ponsel atau buku. Bahkan ketika proses perkulihan pun tiba-tiba saya mendapatkan ide. Atau biasanya saya juga merencanakan topik apa yang harus saya tulis minggu ini. Saya punya buku khusus untuk ide-ide tulisan agar mendekam rapi sebelum saya publish.

Sejujurnya saya sangat jarang bikin kerangka terlebih dahulu saat nulis. Kadang jika mood lagi baik, ketika mendapat satu ide langsung saja saya tulis. Tanpa kerangka, mengalir begitu saja apa yang ingin saya tuliskan. Namun, saya sedang mencoba memperbaiki tulisan saya. Harus benar saya pikir matang, saya rencanakan matang, agar tulisan yang saya hasilkan nantinya berbobot. Yah walau realitanya masih sangat juah dari yang namanya nggak curhat hehe.

Oh ya, bisanya ketika proses menulis kerangka, saya juga baca referensi lain untuk menambah informasi dalam tulisan. Apalagi, saya akan membagikan tulisan informatif yang jelas beda sama tulisan curhat ya hehe. Biasanya tulisan ini akan saya kirimkan pada media masa tertentu, seperti citizen repoter harian surya, travellingyuk, oknews, dan masih ada lainnya. Pun, saya sedang berproses untuk mengembangkan blog ini, doakan yaa.

Saya rasakan betul kerangka tulisan sangat membantu proses menghasilkan sebuah tulisan. Lancar jaya, kek jalan tol gitu aha. Oh ya, rajin-rajin membaca karena menulis dan membaca adalah dua sejoli yang tak terpisahkan. Menulis memaksa diri sendiri untuk meningkatkan bacaan.

Proses yang menghabiskan waktu agak panjang kalau menurut saya. Saya adalah tipe orang yang akan membenarkan tulisan ketika proses menulis usai. Entah banyaknya salah penulisan, bahasanya kurang sesuai, atapun tambahan lainnya. Proses menyunting inilah adalah proses saya mempercantik tulisan. Jujur yang paling buat lama yakni membenahi tulisan, saya sangat sering saltik hehe. Proses inilah saatnya saya menambah, mengurangi, dan menambahi.

Tergantung topik dari tulisan. Jika tulisan mengenai jalan-jalan atau jajan, saat main itulah saya suka foto-foto. Dulunya, sangat bisa dipastikan dalam galeri banyak terpampang foto diri sendiri alias swafoto. Sekarang saya memfokuskan diri juga untuk foto terkait tulisan nantinya. Ah jadi pengen beli kamera dan belajar fotografi. Pula, foto-foto bahan tulisan misalnya foto sebuah produk . Misalnya, kita harus mempersiapkan properti pendukung, cari tempat untuk berfoto, proses pengambilan dan lainnya. Proses ini ingin lebih saya tekuni. Suka iri dengan hasil foto-foto cantik para blogger ternama.

Nah setelah dapet fotonya, jangan lupa dipilah-pilah. Jadikan pada satu folder tertentu. Karena jika foto bercampur dengan foto lainnya bakalan ribet milihin satu-satu. Seringnya saya pilah dan saya kopi pada satu folder khusus bahan tulisan saya.

Beda lagi dengan foto yang bukan hasil dokumentasi pribadi. Kita harus cari-cari foto yang sesuai dengan tulisan kita, biasanya saya cari gambar atau foto di pinterest atau web lain. Jangan lupa mencatumkan sumbernya ya, ingat kita harus menghargai karya orang. Kadang, saya juga suka ijin pribadi pada kontak person yang dicantumkan si empunya.

Nah setelah foto atau gambar kita dapat, biasanya saya edit juga. Saat ini saya menggunakan aplikasi Canva. Menambah identitas diri pada foto atau gambar konten milik pribadi.

Kadang saya langsung nulis lewat ponsel, kadang kala juga lewat laptop terus saya pindah ke ponsel untuk diunggah langsung lewat aplikasi WP di ponsel. Karena frekuensi sinyal lebih cepat, posting lewat ponsel lebih mudah. Nah, karena sekarang akses wifi dengan mudah saya dapatkan di kos, jadilah saya langsung menulis dan mengunggah tanpa proses pindah data. Yang cukup sering adalah memindah foto hasil editan ke laptop karena saya masih ngedit lewat ponsel.

Setelahnya siaplah diunggah pada blog tercinta. Dikirim pada editor atau web resmi, jika ini adalah tulisan konsumtif khalayak. Lalu tekan kirim dan publish deh.

Nah ini kebiasaan saya, suka sekali membaca ulang hasil tulisan yang telah saya post. Dan masih sangat sering saya temuin kesalahan penulisan hiks. Kadang saya lihat ulang tampilannya, jika merasa ada yang kurang saya edit kembali.

Bukan maksud pamer sih, memberikan informasi siapa tahu menambah jangkauan-kan ya. Biasanya saya unggah di instagram, facebook, twitter, dan whatsapp.

Jadi, buat kalian ataupun saya, harus lebih bisa menghargai karya orang lain. Saya pun juga masa berproses dan tentunya ingin menyajikan tulisan lebih baik dan infomatif. Atau hal yang biasanya kalian anggap mudah justru tak begitu adanya. Kehidupan ini saja berproses, apalagi untuk sebuah tulisan, pastilah juga sama.

Selamat menulis, selamat berkarya. Semoga apa yang saya bagikan bermanfaat, aamin.

Proses lahirnya sebuah tulisan versi kalian seperti apa nih? Boleh dibagikan pada kolom komentar ya.

10 thoughts on “Dibalik Sebuah Tulisan

  1. Wih panutan. Dengan proses sepanjang itu, Kak Ve bisa posting sehari lebih dari sekali. Aku aja sebulan sekali belum tentu wkwkw.
    Kalau aku biasa bikin draft sih. Kadang kalau niat banget dari awal, 2 jam juga jadi. Tapi seringnya proses butuh waktu sebulan buat milih kata dan sebagainya. Caranya ya banyak blog walking, baca novel gitu sih. Hehe.
    Tapi bulan kemarin nggak posting sama sekali wkwk

    1. kebanykan malah nggak bikin kerangka, asal tulis. tapi ya itu, kadang suka nggak jelas hehe

      kerennnnn, biar menghasilkan tulisan keren juga yaa 🙂
      semangatt nulis mas 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *