Menggemari Senja di Alun-Alun Kota Blitar

Dalam ingatan masa kecil saya, beberapa pohon beringin dihuni banyak burung kuntul. Kala itu, burung kuntul masih sangat banyak di kawasan Alun-Alun Kota Blitar. Sekarang terlihat beberapa burung saja, em atau mereka lebih sering bersembunyi dibalik daun rindang pohon beringin. Tapi, masih terlihat jejak kotoran kawanan burung putih ini. Entahlah, karena dalam ingatan saya, dulu di kawasan sekitar alun-alun masih sepi dan asri. Jadi, ini adalah kawasan banyak bernaungnya burung-burung tersebut, malah jadi simbol alun-alun kota saya. Sekarang banyak pertokoan, pedagang kaki lima, dan taman pecut yang telah membuka tiara-tirai rindang kawasan ini.

Menggemari senja di Alun-Alun Blitar menjadi salah satu favorit saya. Duduk beralasan rumput hijau seakan menjadi terapi. Yah, walau geli, kadang basah, atapun merasa gatal, sampai saat ini tak jadi masalah. Saya lebih memilih duduk bersila atau tak sungkan selonjoran daripada duduk di trotoar jalan setapak, bangunan tengah alun-alun, maupun pendopo bagian utara. Tempat favorit ya di sini, rumput tepat depan Masjid Agung Kota Blitar.

Pohon beringin di tengah alun-alun masih menjadi bukri sejarah dan simbol dari alun-alun ini. Pohon beringin di sini identik dengan pagar bentuk sangkar, melingkari pohon. Boleh kok masuk, tapi ya nggak ada apa-apa. Malah terkadang bau pesing, mungkin ada beberapa orang usil yang suka kencing sembarangan. Dasar! Dan bau-bau menyengat lain, tentunya kotoran dari burung kuntul yang bersemayan di pohon. Mending kalian cari udara segar dan pemandangan dengan cahaya terang saja, seperti kebanyakan pengunjung.

Baca Juga : Es Drop, Rasa Legendaris Blitar

Alun-alun ini memang lebih diperuntukkan untuk upacara hari besar nasional atapun perhelatan kota. Untuk upacara kemerdekaan misalnya, konser musik bahkan beberapa tahun ini sebagai tempat perhelatan hari jadi Kota Blitar yang lebih dikenal dengan Blitar Tempo Doloe. Alun-alun masih jadi favorit wisata murah meriah di tengah kota. Sejuk, rindang, dan tak lupa beberapa fasilitas penunjang lainnya. Turatama untuk rekreasi anak, cocok sekali.

Di dalam kawasan alun-alun ini fasilitas di antaranya adalah pendopo, jalan setapak yang biasa digunakan untuk joging kemudian pelataran utama dengan tiang bendera (tempat upacara), fasilitas sederhana untuk olahraga, beberapa tempat duduk di bawah pohon. Tapi, bagi saya kurang nyaman karena tepat di bawah pohon bau kotoran sedikit menyengat dan nggak bersih. Mungkin bisa disediakan tempat duduk di sudut tertentu yang lebih nyaman. Kurangnya lagi, tak ada toilet atau kamar kecil di dalam area alun-alun.

Di kawasan alun-alun juga banyak pedagang terutama mainan untuk anak-anak. Mewarani di sterofom yang sepertinya ini adalah mainan yang lagi digemari anak sekarang. Kemudian balon air yang dijajakan penjual dengan cara meniupkan gelembung ke arah ana-anak, jelas untuk menarik hati mereka, mainan kincir (tak tahu pasti namanya) dengan lampu warna-warni sampai mainan layangan. Oh ya disediakan juga arena untuk bermain sepatu roda, tapi kata paman sekarang sudah nggak boleh karena telah disediakannya fasilitas lain untuk arena bersepatu roda oleh pemerintah. Bukan di kawasan ini lagi.

Baca Juga : Wisata Tersembunyi, Air Terjun Gua Luweng Kabupaten Blitar

Dulu sih juga ada persewaan motor-motoran dan skuter, tapi dua kali terakhir saya ke sini udah nggak ada Anak-anak bisa lari-lari sepuasnya di rumput terutama anak kecil, nggak perlu khawatir. Jalan-jalan pagi atau sore bisa sembari momong anak di kawasan ini. Anak-anak juga bisa bawa sepedanya ke dalam lo (yang saya tahu balita). Juga bisa bermain sepak bola dan layangan di dalam alun-alun.

Tenang, banyak penjual makanan di kawasan luar alun-alun, pedagang-pedagang seakan memutari kawasan alaun-alun ini. Sebelah utara berjajar pedagang makanan dan minuman, mulai bakso, ceker kesurupan, siomay, es pleret es khas Blitar, kerupuk sambal, jagung rebus, cilot, sempol, martabak, dan masih banyak lagi. Di bagian timur lebih kepada penjual baju, tas, kaos kaki, asessoris, dan lain sebagainya. Di kawasan ini ada bakso dan es pleret favorit saya lo. Di bagian depan, pintu utama alun-alun yakni menghadap langusng dengan taman pecut yang jadi icon Kota Blitar. Berseberangan juga dengan kator walikota Blitar. Samping barat adalah Masjid Agung Kota Blitar.

Menghabiswaktu kan bersama keluarga cocok nih, sama temen juga boleh, sama gebetan juga boleh, tapi jangan aneh-aneh nanti malah milih di bawah pohon beringin lagi, hi. Memilih untuk menjadi penikmat terbit fajar atau tenggelamnya fajar tergantung selera. Menurut saya ini kedua waktu itu adalah waktu yang paling pas untuk berkunjung. Jangan siang hari, pasti terik dong ya.

Seperti beberapa kali kesempatan, saya lebih memilih menikmati senja di sini. Saya mulai menggemari menghabiskan senja di sini, menyimak setiap lalu lalang, bercengkrama atau hanya berdiam diri sembari selonjoran dan sangat boleh rebahan, sangat bisa. Melihat lukisan senja dibalik masjid kota seperti luapan salam kehangatan Sang Pencipta.

12 tanggapan pada “Menggemari Senja di Alun-Alun Kota Blitar”

Tinggalkan Balasan