Sehari di Surabaya

Beberapa hari di awal liburan saya dan kedua teman kuliah pernah mendiskusikan untuk ke Surabaya. Alasannya ya hanya ingin main saja tanpa punya rencana mengenai tempat pasti yang ingin kami tuju.
Dikarenakan saya juga punya keinginan untuk mengunjungi Surabaya, itu menjadi sebuah kesempatan.

Acara main sehari ke Surabaya alhasil saya manfaatkan untuk meminta ke tempat-tempat yang kepengen saya kunjungi. Dan mereka pun setuju, syukurlah. Intinya perjalanan kemarin adalah perjalanan untuk menyenangkan hati saya hehe, makasih lo ya.

Tiket kereta ke Surabaya saya yang pesenenin. Jadi, kita janjian ketemu di Malang. Dari Blitar saya berangkat sama Tutut, pas banget ketika saya utarakan punya rencana ke Surabaya dia antusias untuk ikut, namun berbeda rute. Kita berpisah, Tutut turun di Sidoarjo sedangkan saya dan kedua teman turun Surabaya Kota atau Stasiun Semut.

Saat perjalanan, saya udah ngerasa nggak enak badan, mungkin karena belum sarapan jadilah lapar menerpa. Berangkat pagi-pagi buta dari Blitar sampai di Surabaya sekitar pukul 11 siang. Lapar, bikin badan lemes, pusing, campur aduk. Sampai sana pun saya rada nggak semangat karena lemes. Disamping itu, memang cuaca di sana ya begitulah kalian memahami. Perlu penyesuaian diri hehe.

Sesampainya seharusnya kami makan dulu, tapi karena tujuan awal dekat dengan stasiun alhasil kami tunda. Duh ya makan pakai ditunda ya. Sebenarnya kami ingin makan deket-deket sana, tapi kami tak menemukan satu pun. Tak banyak referensi tempat makan yang kami tahu. Oke si perut harus bersabar.

Tujuan awal kami adalah Tugu Pahlawan dan Museum 10 November. Kami berjalan dari stasiun menuju tujuan awal itu. Jangan ditanya, panas banget karena kami memang sampai siang hari. Kepala nyut-nyutan, perut berontak pengen diisi, hem harus bersabar dahulu. Kedua teman saya masih semangat sedangkan saya berjalan dengan loyonya. Terik sampai membuat saya malas mendongak, hanya menunduk. Duduk istirahat depan Kantor Gubernur Jawa Timur seberang Tugu Pahlawan.

Hari itu pengunjung cukup ramai, saya suka heran panas-panas gini lumayan banyak pengunjung ya. Apa mereka nggak merasakan terik plus gerah? saya memercingkan mata menangkap gambar dari kamera ponsel.

Yang awalnya saya semangat banget buat ke sini, saya malah loyo ketimbang dua teman saya. Alhasil saya nggak banyak foto, hanya menangkap objek menarik lewat kamera ponsel. Mereka yang eksplor foto sana-sini, saya hanya tukang foto. Tak apa, lagian saya males.

Tugu Pahlawan dan Museum 10 November ini satu lokasi. Walau badan loyo, saya nggak boleh sia-siain kesempatan ini. Seluruh sudut museum saya jelajahi, saya demen dan sungguh menikmati wisata sejarah karena memang dasarnya saya tertarik akan sejarah. Percaya atau tidak, saya sering tetiba berhenti buat jongkok atau duduk saking capeknya. Nanti akan saya bikin tulisan terpisah mengenai cerita jelajah Tugu Pahlawan dan Museum 10 November ini.

Sebenarnya tujuan kedua adalah Museum Kapal Selam daerah Gubeng kalau tidak salah. Tapi, lapar sudah tak tertahankan dan kami nggak cukup punya referensi tempat makan. Ini salahnya kami, nggak bikin list tempat makan apa yang harus dikunjungi sebelumnya. Alhasil kami memutuskan makan di KFC saja, mudah karena buntet di BG Junction Mall. Saya setuju-setuju saja, yang penting makan. Padahal ya, kalau ke tempat baru pengen banget nyobain makanan khas daerahnya, harusnya mencoba hal baru. Apa daya kami memang minim persiapan.

Di sana saya udah serasa nggak kuat berdiri. Saya tunggu mereka sambil tiduran. Makan pun nggak habis, saya minta waktu bentar buat tidur agak lama. Alhamdulillah badan agak mendingan setelah saya tidur dan buang air besar karena sakit perut. Nggak asyik banget kan pergi dengan keadaan yang nggak terlalu fit kek gitu. Setelahnya segeran kok, seger banget. Yang beberapa jam sebelumnya nggak banyak ngomong, batesin gerak sampai serasa nggak mood buat ngapa-ngapain.

Setelahnya kami ke tujuan terakhir yakni Royal Mall karena dekat dengan stasiun untuk kepulangan kami. Memang kalau ke Surabaya nggak jauh-jauh dari mall. Saya ke Royal pun udah beberapa kali. Mereka ingin belanja, saya pun demikian. Tapi, saya dan kedua temen nggak dapat apa-apa. Hanya Tutut yang berhasil belanja. Eh saya hanya beli kertas isi binder sih di gramedia, receh kata temen hehe. Nggak tahu gitu, udah kebeli aja. Padahal jika ada waktu agak lama saya pengen lama-lama di sana mencoba beberapa pena dan eksplor untuk belanja stationery. Malang juga ada keles.

Lagi-lagi kami makan makanan siap saji, Reeches Factory. Saking asyiknya makan sembari ngobrol, tak terasa waktu mendekati jadwal keberangkatan kereta kami. Sudah bisa ditebak, kami ketinggalan kereta. Sempat kesal karena dari awal saya udah peringatkan. Saya kembali mengulang cerita lama, kala itu bersama Tutut, Dian, dan Zahwa satu tahun lalu tepatnya. Kami ketinggalan kereta lagi, sedih.

Akhirnya kami menuju terminal Purabaya dan berpisah di sana, saya dan Tutut menaiki bus menuju Blitar dengan rute Jombang. Kedua teman saya rute Malang. Sampai rumah pukul setengah 11-an malam, tak jauh beda jika kita naik kereta pukul 11 malam sampai Blitar.

Begitulah cerita sehari kami di Surabaya, mungkin nggak ada yang menarik gimana-gimana gitu. Walau saya sempat drop, tapi tak membuat saya kapok dan tetap menikmati. Lain kali harus direncanakan lebih matang. Surabaya masih menanti saya kok. Tenang, list tempat yang ingin saya kunjungi di Surabaya akan segera terwujud tahun ini, aamiin. Simpel kan mau saya. Selamat berakhir pekan.

5 tanggapan pada “Sehari di Surabaya”

  1. wow, salut kalo betah jalan kaki di bawah matahari Surabaya 😛
    beberapa waktu lalu memang surabaya panaaas banget nget nget. tapi beberapa hari ini lebih sering mendung dan hujan deres

    1. Aku sendiri baru nyadar kok bisa2nya jalan hahaha. Gilaaa panasss bangett mbak, ada tragedi grab pula harus ikutan jalan lagi buat nemuin si babang yaaa hisss

  2. Pingback: Sehari Melihat Sejarah Perjuangan Arek Surabaya, Tugu Pahlawan dan Museum 10 November – Tulisan-nya Vera

Tinggalkan Balasan