Pasang Surut Kepercayaan Diri

Pembicaraan acak….

Apasih, apa?

Saya mau curhat lagi, semoga kalian nggak bosan sama celotehan saya. Kalau dibaca syukur, kalau mau diskip boleh. Saya hanya ingin menuntaskan curhatan, uneg-uneg, cerita, pengalaman atau hal apapun namanya pada malam ini. Butuh temen? iya, siapa tahu kalian memang tertarik baca ini hehe. Udah gitu aja cukup bagi saya.

Banyak intro nggak jelas, mengandung bualan.

Orang mengenal saya adalah pribadi yang mudah bergaul. Sama temen nggak canggung, terkadang disebut sok kenal sok deket, sok asyik. Intinya mudah sekali bersosialiasasi dengan orang. Pun, dengan orang baru. Kenalan dan berinteraksi dengan orang baru nggak ada masalah alias mengalir begitu saja.

Baca Juga : Runtuh karena komentar pedasmu

Tapi, semua itu pasang surut. Yah, kepercayaan saya, ketidakmaluan saya yang katanya sok kenal, mudah bergaul, dan nggak ada kikuk saat berinteraksi dengan orang. Apalagi dengan orang baru. Krisis percaya diri dalam diri saya nyatanya memang pasang surut. Tergantung lingkungan dan stimuluas atau motivasi apa yang bisa menaikkan tingkat percaya diri (dalam hal bersosialisasi) bahkan menjatuhkan.

Semasa sekolah dasar, saya memiliki banyak teman. Mulai dari temen sekolah, temen rumah, temen main, temen ngaji. Rasanya saya hampir dengan mudah berteman dengan siapapun. Masa-masa SD, saya punya temen-temen deket, tapi di usia yang sekarang mereka nggak selamanya tetap ada di dekat saya. Atau kita bisa kompakan sampai sekarang. Nggak gitu, semua berawal dan berubah ketika saya memasuki SMP. Harus rela pisah dengan beberapa teman. Sempat nggak ingin pisah karena saya alhamdulillah keterima di SMP favorit saat itu. Ketidakpercayaan diri mulai menjangkit saya sejak itu. Yang takut kalah saing atau posisi terbawah karena banyak siswa pintar. tetiba takut kenalan sama temen baru sampai takut juga buat interaksi. Dan itu membuat masa SMP saya tak begitu istimewa.

Sugesti awal itu telah membentuk kepribadian pemalu, takut, minder, dan berakhir menjadi anak cupu. Nggak banyak teman karena saya sangat-sangat pemalu saat itu. Saya memandang teman-teman saya begitu waw, catik-cantik, pintar, fisik ya bisa dikatakan ideal, mudah bergaul, dan memang anak gaul. Semasa SMP terkenang sebagai catatan seperti ini, hanya sekolah, belajar, selasai kemudian pulang (nggak ke mana-mana alias ngluyur). Begitu terus alurnya. Saya memang punya beberapa teman dekat, maka dari itu saya nggak pernah mau sendiri jika di depan umum. Entah itu acara ulang tahun sekolah, jajan di kantin, olahraga, dan lainnya. Kalau nggak sama temen, ada rasa malu dan ketakutan berinterakasi dengan orang. Sesampai seperti itu, mengingat masa SD saya adalah masa di mana saya anak yang punya banyak teman dan mudah bergaul tetiba terbalik begitu cepatnya.

Baca Juga : 6 Ciri Anak Rumahan

Sampai SMA punya temen-teman beragam lagi karena saya mulai berani untuk aktif di beberapa organisasi. Masa indah iya, sampai saya nggak ingin masa SMA itu berakhir. Harus bertemu dengan orang baru lagi? saya sempat menolak, tapi mau apa? kami punya tujuan dan cita-cita masing-masing. Mungkin dari situlah mental anak yang lebih suka sendirian terbentuk. Saya dicap sebagai mahasiswa kupu-kupu alias kuliah pulang kuliah pulang. Yah, saya nggak cukup berani ditambah malas untuk ikutan UMK, HMJ, kegiatan sosial, atau hal apapun yang melibatkan banyak orang.

Dari saya ingin pindah tempat tinggal. Cari kos untuk sekamar buat sendiri. Alhamdulillah, di kos baru saya ketemu mereka dari lingkungan berbeda yang akhirnya mewarnai masa rantau saya. Setidaknya masih ada orang yang saya bisa percaya.

Yah pasang surut kepercayaan diri masih berlangsung sampai sekarang. Berputar, ada kalanya berani dan ada kalanya saya benar-benar takut ketemu orang, nggak bisa sendirian kalau nggak sama temen, harus ditemenin. Sampai level itu, heem.

Dari peralihan-peralihan itu saya belajar bahwa saya nggak bisa selamanya menggantungkan diri dengan orang lain. Tapi, ada masa di mana saya memang nggak ingin ketemu orang. Ada masa dimana saya ingin sendiri, menghabiskan waktu sendirian alias me time. Ada waktu dimana mau menerima tamu atau bahkan nggak ingin menerima tamu, contoh singkat seperti itu, Tapi, saya (kita) nggak bisa terlepas dengan orang lain. Interaksi itu perlu, sosialisasi itu dibutuhkan. Nggak logis kita mementingkan diri sendiri. Intinya semua harus ada batasannya.

Saya juga lagi tahap pelan-pelan belajar pengen jalan-jalan sendirian, duduk di kafe sendirian, nonton film atau nonton pertunjukan sendirian, makan warung sendirian, beli baju sendirian, dan lainnya. Eh, saya udah memulai main ke kafe sembari nuga atau ngeblog sendiruan lo hehe. Awal yang baiklah wkwkw. Bukannya saya manja, tapi saya nggak nyaman sendiri dalam ranah “keramaian”. Pokoknya gitu

Ini curhat apasih… randomlah… Maapken….

Harus nulis soalnya, konsisten itu perlu. Selamat malam…

 

Tulisan ini untuk memenuhi tantangan #BloggerPerempuanBlitar. Baca juga :

Rizky Almira 

Tutut Yunita 

Andhirarum 

13 thoughts on “Pasang Surut Kepercayaan Diri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *