Istana Gebang, Cermin Bakti Bung Karno Kepada Orang Tua

WhatsApp Image 2019-03-27 at 23.30.19 (1)

Kalian harus tahu dan merasakan sendiri bahwa setiap perjalanan akan memberikan kesan dan makna bagi si pejalan kaki. Sebuah perjalanan yang banyak mengantarkan kita pada sebuah rasa syukur bahwa Tuhan menciptakan kita di bumi agar benar- benar menjadi manusia penggali amal sebagai bekal akhirat nanti. Bahwa Tuhan pula menciptakan manusia untuk merajut dan menguarai ceritanya di bumi. Jadi, begini….

Setiap kali saya berwisata sejarah, mengunjungi situs-situs sejarah dengan selalu terlintas rasa penasaran akan tempat dan sosok-sosk mereka yang telah berpulang. Bagaimana mereka hidup di zaman itu? Bagaiaman mereka mengukir cerita sampai dikenal dan diceritakan kepada anak cucu hingga generasi sekarang? Apa saja yang mereka torehkan bagi bangsa ini bahkan ia sendiri dan keluarganya? Saya menjumpai sisi itu pula ketika saya berkunjung ke Istana Gebang.

WhatsApp Image 2019-03-27 at 23.30.19 (9)

Bukan pertama kali saya mengunjungi Istana Gebang. Dan dua minggu lalu bukan tanpa sengaja saya berkunjung kembali. Saya kerap ke sini, mengulang petualangan menyusuri rumah keluarga Bung Karno ini. Menelusuiri setiap sudut yang tak asing lagi bagi saya. Namun, ternyata saya tak cukup tahu banyak akan Istana Gebang dan segala cerita yang tertimbun di dalamnya. Siapa lagi kalau bukan tokoh utamanya adalah Bung Karno. Jadi, perjalanan hari itu menunjukkan saya sebuah ukiran cerita dari Bung Karno, sebuah tanda bakti terhadap orang tuanya dari sisi lain Istana Gebang ini.

Jika kau sedang jauh dari rumah, jauh dari orang tua. Ingatlah dalam jauh ada bapak dan ibu yang kerap menunggu kepulanganmu. Sejauh-jauhnya kau merantau, mencari keberentungan di kota lain atau membina rumah tangga dengan keluarga kecilmu. Tetapi, yang namanya rumah, tempat kau dilahirkan akan tetap menjadi rumahmu bernaung sampai kapanpun. Berpulang pun nantinya kau akan kembali ke tanah kelahiranmu. Bakti akan orang tua juga jangan disepelekan karena itulah tiket kita menuju surga. Kau boleh kaya dengan harta, boleh bergelimang akan jabatan. Tapi, ingatlah dibalik itu semua kemewahan dan jabatan itu ada doa dan usaha orang tua yang mengiringi. Ini adalah kisah seorang tokoh yang tak lekang oleh zaman dan terus terpatri dalam ingatakan rakyat Indonesia. Siapa lagi kalau bukan Bapak Proklamator Ir. Soekarno.

Ini adalah kisah dibalik beliau, disaksikan dan terukir rapi oleh sebuah kediaman yang bertempat di Blitar. Rumah yang tak lapuk bangunannya oleh zaman begitu pula kenangan di dalamnya. Kalau kalian sudah sedikit tahu tentang Istana Gebang dari gambaran awal tulisan saya, kita simak cerita-cerita lainnya berikut. Lanjut ….

WhatsApp Image 2019-03-21 at 13.43.46

Lahan parkir dan area penjaja makanan yang makin luas dan bersih

Dari terakhir saya berkunjung kemarin, Istana Gebang telah nampak baru karena memang pemerintah ingin memperkenalkan sejarah lain dari Blitar selain Makam Bung Karno. Seperti lahan parkir yang makin luas, makin luasnya pula area sekitar Istana Gebang. Makin terawatnya toilet dan mushola yang bersih. Benar memanjakan pengunjung. Mulai dari wisatawan lokal apalagi untuk mereka yang masih sekolah sekali-kali pelajaran sejarah boleh diajak berkunjung untuk lebih dekat mengenal sosok Bung Karno yang tetap meninggalkan nama dan ceritanya di Istana Gebang. Bahkan ramai pula wisatawan dari luar kota.

WhatsApp Image 2019-03-27 at 23.30.20 (9)

Kediaman istirahat ajudan

Cermin bakti seorang Bung Karno kepada orang tuanya, ibundanya terutama.

WhatsApp Image 2019-03-27 at 23.30.19 (11)

Ruang tengah bagian rumah induk

WhatsApp Image 2019-03-27 at 23.30.19 (12)

Ruang tengah bagian rumah induk

Jika berkunjung jangan hanya berfoto saja, selami cerita-cerita di baliknya. Jangan sungkan untuk meminta penjelasan dari petugas di sana. Mereka akan dengan sangat ramah menjelaskan kepada kalian. Saya yang awalnya hanya ingin mampir dan lihat-lihat lagi tetiba ngobrol sama mbak petugas di sana (saya lupa namanya). Hingga sampai kepada saya tanya-tanya banyak hal dari setiap benda atau sudut yang buat saya penasaran. Dan beliau pun dengan ramah, jelas, dan telaten untuk membagikannya kepada kami. Saya mengajak Zahwa ke sana, itung-itung minjem kamera ponselnya yang ciamik. Lumayan kan…

WhatsApp Image 2019-03-27 at 23.58.49

WhatsApp Image 2019-03-27 at 23.30.20 (2)

Ruang tengah bagian rumah induk

Bung Karno sangat mencintai ibunya. Cinta baktinya pun seakan tak pernah luntur bahkan ketika beliau telah menjadi orang nomor satu waktu itu. Setiap kali Bung Karno berkunjung ke Blitar, di sela istirahat dinasny. Beliau pulang kampung ke Blitar.

WhatsApp Image 2019-03-27 at 23.30.20 (5)

Ruang tengah bagian rumah induk

Rumah zaman dulu kamarnya begitu luas. Setiap anggota keluarga mempunyai kamar masing-masing. Ciri khas tempat tidur (kasur) yang menggunakan renda (selambu). Kasur saya dulu juga begitu ada rendanya. Gunanya biar nggak ada nyamuk, jadi sebelum tidur ibuk mengusir nyamuk dengan menggunakan sapu kasur itu lo. Dikebut-kebut hehe (apa ya bahasa Indonesianya) yang kemudian segera ditutup biar nggak keduluan si nyamuk. Dan kamar-kamar di Istana Gebang hampir semuanya seperti itu. Luas dan masih lengkap dengan beberapa perabotan kamar seperti meja rias dan lemari.

WhatsApp Image 2019-03-27 at 23.56.54 (3)

WhatsApp Image 2019-03-27 at 23.56.54 (1)

Kalau kamar dulu memang luas karena jikalau ada keluarga berkunjung bisa gelar tikar dan tidur bersama dalam satu kamar. Seperti halnya Bung Karno, setiap mengunjungi ibudannya konon beliau jarang bahkan tak pernah istirahat di kamarnya sendiri. Beliau memilih menggelar tikar tidur di kamar orang tua, bersama ibudannya. Yah layak manjanya seoarang anak kepada ibudannya, tutur mbak.

WhatsApp Image 2019-03-27 at 23.56.54 (4)

Tahulah ini saya mandangnya ke arah mana

WhatsApp Image 2019-03-27 at 23.56.54 (2)

Keluarga besar beliau juga berlanggana majalah/koran (penyebutannya waktu itu). Dan konon majalah/koran hanya bisa dibeli dan dibaca oleh orang-orang tertentu (mungkin terpandang dan ekonominya mumpuni ). Jadi, majalah/koran tersebut hanya terbit setiap satu bulan sekali. Beda dengan saat ini yang setiap hari bisa baca koran. Menurut saya itu adalah sebuah perjuangan untuk mendapatkan informasi (berita) seluk-beluk terkait peristiwa di negeri pertiwi Indonesia. Kalau dibedakan jelas beda dengan sekarang, lewat gawai kita pun bisa dan bisa diakses kapan saja dan di mana saja.

WhatsApp Image 2019-03-27 at 23.56.54

enyebar Semangat namanya yang masih tertulis dengan ejaan lama Penjebar Semangat tahun 1962

Bung Karno juga sering menghabiskan waktu bersama ayahanda. Contohnya di meja kerja ayahanda beliau, yang kerap beliau ikut memanfaatkan mesin ketik milik ayahnya. Mesin ketik itu masih ada sampai sekarang dengan tahun tertera 1961. Lainnya, masih ada tongkat-tongkat Bung Karno. Yah kalau kalian tahu Bung Karno erat dengan tongkatnya ke mana-mana. Tuturan mbak, Bung Karno memiliki dua jenis tongkat yang terdiri dari banyaknya. Jenis itu dibedakan untuk dinas dan sehari-hari. Saya tak lewatkan untuk mengambil gambarnya pula. Ada pula tongkat beliau yang terbuat dari tanduk binatang (bagian atasnya).

WhatsApp Image 2019-03-28 at 00.12.05

WhatsApp Image 2019-03-27 at 23.30.19 (10)

Kediaman yang kelihatan kecil ini ternyata begitu luas. Yah kalian tahu dari ulasan singkat saya sebelumnya. Banyak sudut dan ruang dari Istana Gebang. Beberapa di antaranya adalah tempat istirahat abdi ndalem dan ajudan beliau. Saya sempat penasaran di bagian belakang banyak kamar mandi. Ternyata adalah kamar mandi para abdi ndalem kediaman beliau. Bung Karno dan keluarga selalu menyempatkan makan bersama. Terdapat dua ruang makan, di dalam ruang dan di luar yakni antara rumah induk dan area belakang.

WhatsApp Image 2019-03-28 at 00.14.46

WhatsApp Image 2019-03-27 at 23.30.19 (4)

Salah satu sudut rumah favorit saya adalah sudut koleksi perabotan dapur. Entah dahulunya ini adalah dapur atau hanya tempat menaruhnya perabot dapur, saya tak paham hehe (lupa tanya). Ada banyak toples-toples, zaman sekarang mungkin kebanyakan toples terbuat dari plastik. Di sini semua toples pecah belah dan ukurannya pun besar hehe. Kemudian ada batu seperti cobek berbentuk persegi. Konon untuk menghaluskan daging dengan cara ditumbuk. Dan masih banyak lainnya seperti penggorengan atau apa ya namanya (wajan) yang super besar, alat pemanggang roti, dan blander. Konon setiap kali Bung Karno berkunjung ke luar negeri, sekembalinya beliau selalu membawakan oleh-oleh untuk ibudannya salah satunya adalah blander. Yah blander ini masih menggunakan baterai lo.

WhatsApp Image 2019-03-27 at 23.30.19 (5)

Oh ya setiap minggu selalu ada pertunjukan kesenian di sini. Salah satunya yang saya tahu adalah jaranan. Mampir deh mampir, jangan sampai melewatkan.

WhatsApp Image 2019-03-27 at 23.30.20 (4)

Sebenarnya masih banyak cerita di balik Istana Gebang ini yang luput saya ulik. Kapan-kapan jika ada kesempatan lagi saya harus tanya-tanya banyak supaya pulang bawa cerita dan tentu mengambil sisi positifnya.

Begitulah sekilas bakti Bung Karno kepada orang tuanya.

WhatsApp Image 2019-03-27 at 23.30.19 (8)

WhatsApp Image 2019-03-27 at 23.30.19 (6)

Baktimu kepada orang tua adalah tiket Tuhan membiarkan pintu surganya terbuka.

Infomarsi Selengkapnya :

Lokasi : Jl. Sultan Agung No.59, Sananwetan, Kota Blitar, Jawa Timur 66137

Jam Buka : 07.00-17.00

Tiket : Gratis hanya biaya parkir kendaraan

Tulisan ini untuk memenuhi tantangan #BloggerPerempuanBlitar. Baca juga :

Rizky Almira

Tutut Yunita

Andhirarum

5 tanggapan pada “Istana Gebang, Cermin Bakti Bung Karno Kepada Orang Tua”

  1. Pingback: Memutuskan Jadi Turis di Kota Sendiri dalam Sehari – Tulisan-nya Vera

  2. Pingback: Piknik Migggu Pagi, Berbagi Jajanan Lebaran – Tulisan-nya Vera

  3. Pingback: Kau dan Aku Bagian dari Kita : Kau dan Akku Thai Tea – Tulisan-nya Vera

Tinggalkan Balasan