Merindu Si Bungsu

Mimpi itu begitu jelas. Sampai sentuhan ketika memegang pipinya, mencubit, dan ingin merangkulnya pun begitu jelas di mimpi. Raut wajahnya pun tak samar, warna kulitnya yang kehitaman masih sama walau sekarang dari jauh dia memang sudah terlihat berbeda. Yah mungkin saya sedang rindu.

Sebelumnya, sebelum berangkat pulau kapuk kami sempat ngobrol beberapa hal lewat chat. Mungkin hal itu juga yang membuat mimpi itu datang pada saya. Rindu sedang menerpa lewat mimpi, tapi semua begitu nyata. Merindu si bungsu.

Baca Juga : Terlintas Cerita Masa Kecil

Jarang sekali saya menceritakan adek kedua. Jarang sekali saya menceritakan tentang adek-adek. Kali ini tidak ada salahnya, saya ingin menuangkan cerita tentagnya. Siapa tahu ini melegakan rindu saya yang tertahan jarak.

Sedikit cerita, saya pernah diprotes si bungsu (Rista) kok saya nggak pernah nulis tentang dia atau pakai foto dia buat bahan tulisan saya hehe. Iya dia sempat berucap demikian. Iya juga, saya hampir nggak pernah cerita atau pasang beberapa foto dia di blog. Mungkin dia udah paham betul saya itu bergelutnya sama nulis dan blog ini. Jadi, permintaan dia pun ingin nampang di blog hehe. Apapun sulit saya rem untuk nggak cerita di sini. Walau masih ada beberapa hal yang nggak ingin saya ceritakan atau saya tahan-tahan hehe.

Oke kambali…

Kali ini saya akan menceritakan bagaimana kehidupan persaudaraan kami. Kapan-kapan saja saya kolab sama adek lanang (adek nomor dua). Sekarang saya sedang merindukan si bungsu, jadilah cerita ini saya tulis.
Usia kami kurang lebih berjarak 6 tahun. Masih ingat betul ketika dia lahir saya masih kecil. Kami sekeluarga menantikan lahirnya si bungsu. Yah waktu itu ditolong dukun anak, yah beliau yang sering dipercaya untuk membantu proses kelahiran di desa kami. Bungsu lahir di rumah, tanpa ada bapak yang menemani.

Kulitnya lebih hitam dari kami berdua. Tapi, rambutnya yang lurus dan sedikit agak kecokelatan sering membuat saya iri. Jika diurai rambutnya begitu indah, lurus, dan rapi. Dia tumbuh sehat, terlihat dari badannya yang ideal daripada saya yang memang kurus.

Kami sekolah dan ngaji di tempat yang sama, tidur juga sama-sama. Malah sampai usia saya sekarang sebelum dia merantau, saya tetap nggak bisa tidur sendiri kalau nggak sama dia. Segitunya sih. Kami nggak pernah meresmikan bahwa kamar ini milik berdua, mengalir saja. Padahal di rumah kamarnya banyak, tapi semua barang kita numpuk di kamar itu. Yang jelas banyak andil dalam tata ruang kamar dan segala isinya sih saya, dia super pemalas. Yah yang kerap membuat pertengkaran kecil di rumah.

Sewaktu kecil dia yang sering ngintilin saya. Tiap kali mau main sama temen saya harus bohongin dia dulu supaya nggak ikut #hahajahatbanget. Tapi, semakin dewasa saya malah nggak bisa lepas sama dia. Seperti keluar atau saya mau diantar ke mana gitu, kerap ajak si bungsu karena dia lebih lihai mengendarai motor. Mau saya repotin ke mana pun oke-oke aja.

Makin bertambah usia makin sering pertengakaran kecil terjadi.
Kami jadi sering ribut karena masalah sepele. Jadi, memang seperti ini realita persaudaraan yang sama-sama perempuan. Semakin dia gede, dia udah sering main sama temennya. Begitu juga sama saya. Jarang bertegur sapa atau ngobrol kalau nggak malam hari ketika kami ingin merajut mimpi. Semakin dia gede pun dia udah jarang cerita-cerita sama saya. Dia makin ngeselin kalau kata saya karena mungkin kita sama-sama udah pada gede. Makin gede makin besar juga keegoisan kami.

Puncaknya waktu dia udah jadi anak SMK dan saya udah kembali ke Blitar setelah kelulusan S1, makin-makin sering bertengkarnya heboh. Sering ribut masalah bajulah, tas, dan hal-hal lainnya. Karena saya memang nggak suka kalau dia minjem barang tanpa izin. Salah saya juga, mungkin ada waktu dimana saya nggak mau minjemin. Jadi, daripada ribut pas minta izin lebih baik dia makai diem-diem #mungkin.

Yah begitulah pertengkaran kami. Sampai dia pernah ngambek nggak mau tidur di di kamar. Dia memilih tidur di ruang tengah (ruang nonton TV). Yang awalnya saya juga marah ee saya ikutin dia tidur di ruang TV hehe. Sampai kepada puncaknya dia udah kelas 12, saat itu egois saya tertampar. Saat masa-masa labilnya yang bikin kami sekeluarga ngelus dada. Mungkin dia sedang masa pencarian jati diri. Jadi sering main, nggak izin, main sampai malam, kalau dikasih tahu nggak dengerin. Intinya kala itu dia bandel banget.

Sampai kepada dia dikasih cobaan sakit, kami sekalurga dikasih cobaan. Yah egois saya di sana udah mulai luluh. Tersadar, ternyata selama ini saya udah nggak perhatian sama dia. Udah sibuk dengan dunia sendiri, nggak ngertiin dia. Yah begitulah….

Ini foto terakhir kami sebelum dia pergi

Sampai kepada kami harus benar-benar berpisah. Saya yang kembali ke Malang dia pun memutuskan untuk bekerja. Yah dia memutuskan bekerja, padahal orang tua juga kasih izin plus kesempatan untuk kuliah. Tapi, dia memang nggak mau. Dia memiliki kemauaan sendiri. Memang nggak bisa dipaksa dan disamakan walau kita saudaraan. Karena keinginan setiap orang dan cita-cita orang nggak akan pernah bisa disamakan.

Dia mengikuti keluarga besar kami di Batam, kerja di sana. Sebelumnya nggak rela, dia nggak pernah jauh dari rumah. Lha wong pernah saya ajak nginep di Malang selama seminggu saja dia udah minta balek sebelum seminggu.

Saya mengkhawatirkannya, takut dia kesepian di sana. Ternyata alhamdulillah dia enjoy sampai sekarang. Saya yang paling nangis hebat ditinggal dia, saya yang agak nggak rela dia kerja jauh, tandanya kamar kami hanya dihuni oleh saya #sepi.

Disitu juga kami menyadari, jarak inilah yang makin-makin merekatkan kami, menunjukkan arti persaudaraan. Yang dulunya jarang chat kan sekarang jadi makin sering sih hehe.

Semoga rindu ini tersapu dengan curhatan ini….

 

Tulisan ini untuk memenuhi tantangan #BloggerPerempuanBlitar. Baca juga :

Rizky Almira 

Tutut Yunita 

Andhirarum 

4 thoughts on “Merindu Si Bungsu

  1. Waduh, kirain tadi…
    Mbak, kalo bisa kata2 ‘sebelum dia pergi’ diganti dong.
    Sebelum merantau atau apalah. Soalnya dengan kata2 yg pertama konotasi katanya bisa berbeda buat setiap orang.
    Dan saya juga tadi sempat menarik konotasi negatif😁
    Sorry,,, kalo tidak berkenan, comentnya dihapus juga boleh😁😁

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *