Saya Tak Pernah Mudik!

Lahir dan besar di Blitar tidak pernah memberikan kesan plus mengukir cerita mudik. Keluarga besar juga semua di Blitar hanya beda desa atau di Kapubaten saja. Ada sih keluarga jauh semisal di Surabaya dan Malang, tapi kami benar-benar tidak pernah mudik. Karena kakek dan nenek merupakan anak tertua, jadi seringnya rumah kami yang dikunjungi.

Kami tak pernah mudik, menerima tamu dan menerima keluarga besar ya di rumah kami.

Nah, mulai deh sejak SMA saya ngerasain yang namanya mudik alias hari pertama lebaran nggak di rumah. Walau nggak bisa dibilang mudik banget dengan khasnya yang macet-macetan karena perjalanan jauh. Kami sekeluarga mudik ke Kediri ke rumah orang tua ayah. Nggak jauh, setidaknya ngasih cerita pengalaman mudik hehe.

Mulai dari mudik dengan personil lengkap, pernah nggak ke sana, lebaran kemarin hanya sama ibuk dan adek Rista motoran aja karena adek lanang dan ayah merantau. Dan lebaran ini masih ngerasa kurang lengkap dan sedih karena si Rista nggak pulang, adek bungsu yang pertama kali ngerantau.

Rutinnya setelah solat id dan sungkem sama keluarga inti, kami akan ke Kediri sampai sore hari nggak sampai nginep karena kasihan nenek sendirian di rumah dan pasti tamunya banyak banget.

Cerita mudik saya emang nggak diwarnai macet-macetan ria, tapi dengan itu saya bisa nikmatin yang namanya lebaran di jalan. Pergi mengunjungi kakek di sana dan keluarga. Setiap perjalanan kita selalu menyisakan momen, tambah mempererat kami satu sama lainnya. Karena kita jarang kumpul lengkap kalau nggak ramadan dan lebaran.

Yang nggak kalah seru, bisa seru-seruan di mobil dengan beranca dan foto-foto bareng.

Momen mudik nan sederhana . . .

#30HariKebaikanBPN#bloggerperempuan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *