Mendaki Bukit Pertapaan : Gunung Pegat Blitar

Bangun pagi hari serasa sungguh berat. Inginya terus nempel pada kasur dan menutup seluruh badan dengan selimut. Ingin minggu pagi ini tak terganggu, berencana bangun sedikit siang. Namun, semua harus dipaksakan untuk bangun demi olahraga. Hemmmm …. demi kemasalahatan jiwa dan raga!

Menyambung tulisan saya sebelumnya, saya mulai menikmati yang namanya olahraga. Walau tiap kali memulai selalu berat rasanya, tak terkecuali minggu pagi kemarin.

Tumben saya semangat banget nulis momen yang baru aja terjadi hihi. Soalnya ngerasa bersalah blog ini udah lama nggak saya utak-atik atau unggah tulisan.

Semalam (sabtu malam) memang saya lagi males keluar. Memutuskan untuk tidur lebih awal. Tengah malam kebangun, dapat chat dari temen mengingatkan tentang agenda minggu pagi kita. Sudah bangun dari pagi, tapi untuk segera bersiap sungguh sangat malas. Benar perjuangan mengumpulkan semangat untuk segera bangkit dari kasur karena kita janjian pukul 6 pagi. Hemmmm, rada sebel akhirnya kita berangkat pukul 7 lebih. Nunggu temen lumayan lama, tuman.

Jadi, kita bertiga punya rencana udah dari dua minggu lalu buat mendaki ke salah satu gunung (atau malah terkesan bukit ya). Lokasinya nggak begitu jauh dari rumah. Saya sendiri udah beberapa kali lewat daerah sini, tapi nggak pernah bener-bener berhenti. Kita akan ke Gunung Pegat. Dalam bahasa Jawa Pegat berarti bercerai atau berpisah. Konon katanya, jika ada pasangan yang melewati gunung ini akan mengalami nasib pegat atau pisah sama pasangan. Mitosnya demikian, benar atau nggaknya hanya Tuhan yang berhak berkehendak.

Tapi, baru saya sadari hari ini kita mendaki Bukit Pertapaan yang masih satu wilayah sama Gunung Pegat. Bukan Gunung Pegatnya ternyata, hemmm. Soalnya saya cuma ngikut temen doang yang udah pernah ke sini. Ternyata Gunung Pegat sendiri di sebarang dari bukit ini dan memang lebih tinggi. Mungkin kedua gunung ini disebut Pegat karena berpisah yaaa, hemm.

Lokasinya dekat dengan pemukiman penduduk. Pengunjung hanya cukup membayar tiket masuk seribu rupiah saja. Murah banget! dan biaya parkir kendaraan hanya dua ribu saja. Saya rasa ini juga bisa jadi wisata murah meriah. Bukit ini (mungkin lebih bisa disebut dengan bukit yaa) sekiranya cocok sekali untuk olahraga bersama keluarga juga. Menikmati hari libur dengan mendaki bukit yang tidak terlalu tinggi, jalan atau aksesnya mudah, dan yang terpenting bisa juga mengajak anak-anak mendaki. Mengenalkan mereka agar lebih dekat dengan alam. Bisa juga sebagai motovasi mereka untuk tak pantang menyerah dalam mencapai puncak atau harapan.

Ketika di perjalanan,  saya berpapasan dengan seorang ayah dan anaknya yang mendaki juga. Betapa sabar sang ayah menuggu anaknya untuk bangkit dari rasa capek. Menunggu dengan sabar dan menuntut sang anak untuk sampai ke puncak. Di Bukit Pertapaan ini tidak hanya mereka yang mendaki saja, ada jalur sepeda buat mereka yang hobbi bersepeda. Cukup curam dan terjal, jadi harus berhati-hati. Kita bertiga juga beriringan dengan rombongan bapak bersepeda itu. Keren sih, memang tingginya tidak seberapa, tapi untuk sampai ke puncak jelas perjuangan sekali.

Seperti yang saya singgung di awal tadi, akses atau jalannya nggak terlalu sulit. Pertama dari awal kita mendaki, kita disungguhkan dengan tangga berundak-undak. Mudah, tapi ngerasa capek juga sih. Setelahnya kita baru mendaki dengan rute yang cukup sulit, bebatuan dan pasir. Tetap hati-hati dan waspada.

Tepat di puncak kita akan disuguhkan dengan bukti sejarah yaitu sebuah candi. Ini merupakan lokasi pertapaan. Dan ketika kita meilhat ke seberang barulah terlihat Gunung Pegat.

Bagi saya lumayan bikin ngeluh (karena jarang banget buat jalan), kerasa capek karena lumayan begitu terik sinar matahari. Sempat saya ogah-ogahan buat melanjutkan perjalanan ke puncak gunung seberang, Melihatnya saja sudah tak kuasa haha. Belum banyak persiapan, keluh saya. Hanya berbekal satu botol minuman saja hihi.  Tapi, kita udah nggak penasaran karena memang beda akses buat ke Gunung Pegat. Setidaknya latihan dulu dari sini.

Memang di sini masih cocok buat wisata keluarga sih. Ramah bawa anak kecil. Banyak gazebo dan tempat duduk untuk beristirahat. Bahkan di tengah perjalan, terdapat satu kawasan dengan banyak spot foto dan tempat duduk (untuk bersantai dan berpiknik pun bisa). Itung-itung wisata murah meriah. Mengajarakan anak juga tentang arti usaha dan mengenalkan alam. Indah banget kok pemandangan dari atas bukit ini. Adem gitu walau sangatlah terik. Lukisan Tuhan sangat cantik. Biru langit pun terlihat jelas. Elok!

Kalau nggak bawa bekal pun nggak masalah, tenang saja. Lumayan banyak penjual kok. Tapi ingat! Harus tanggung jawab dengan sampahnya sendiri! Dan pasti nggak lengkap jika tak mengabadikan momen. Sedikit-sedikit kita emang berhenti buat foto. Tapi, saya nggak terlalu banyak foto sih (ah yang bener) daripada kedua kawan saya. Pastinya, mata lensa nggak berhenti buat bidik setiap sudut dan pose.  Agenda berikutnya harus bisa sampai puncak Gunung Pegat, aamiin. Semangat!

Kalau ke Blitar jangan lupa mampir deh ya. Kalau urusan cerai atau pegatnya saya nggak jamin #ehjahatkali. Percaya saja saman kuasa Allah SWT.

Tinggalkan Balasan