Menengok Tempat Produksi Kopi dan Menikmati Kopi Blitar : Kebun Kopi Karanganjar Blitar

Setelah acara Ketemukita.id, esok harinya kita bertiga (saya, Gemi, dan Tutut) berkunjung ke Kebun Kopi Karanganyar. Si Gemi lagi nginep di rumah, minta jalan-jalan gitu di Blitar. 3 pilihan destinasti tempat yang saya tawarkan ke dia. Penangkaran Rusa Maliran, Kebun Kopi KaranganJar, dan nyobain gelato. Gemi balik Malang dengan kereta sore sekitaran pukul 3. Jadi,  kita harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Akhirnya pilihan kita  ke Kebun Kopi Karanganjar plus pulangnya berencana nyobain gelato.

Kita berangkat sekitar pukul 9 pagi menuju Kebun Kopi Karanganjar. Tempat wisata ini udah cukup terkenal beberapa tahun terakhir ini. Selain wisata edukasi kopi, rekreasi, juga belajar sejarah. Saya udah pernah menulisakannya berikut.

Baca : Kebun Kopi Jejak Kolonial Belanda De Karanganjar

Masih suasana liburan, jadi pengunjung lumayan banyak Kedua kalinya saya ke sini, bedanya ya itu tambah rame. Tiket masuk 15 ribu per-orang dan parkir motor 3 ribu rupiah. Dengan harga segitu, kita dapat satu sachet kopi dari Karanganjar. Hari itu saya dan Tutut jadi guide, biarkan Gemi berkelana saja hehe. Selain bisa berkeliling kebun kopi, pengunjung bisa jalan-jalan di sekitar bangunan utama yang terkenal dengan ikon bangunan bertuliskan “De Karangnjar Koffieplantage” dalam bahasa Belanda yang berarti Kebun Kopi Karanganjar.

Kita mulai berkeliling dengan memasuki 3 museum dulu. Pertama, Museum Purabakti berisi dokumentasi pemimpin Kabupaten Blitar sekaligus pemilik bangunan peninggalan Belanda ini. Kedua, museum Mblitaran berisi koleksi beberapa lukisan si empunya, dan Museum Pusaka. Dari berkeliling ria selain 3 museum tersebut, yang paling menarik buat saya adalah tempat pengolahan kopi.

Tempat pengolahan kopi ini merupakan bangunan lama,  tempat produksi kopi. Entah sekarang masih digunakan atau tidak ya. Pertama kali ke sini, saya belum masuk area ini. Jadi, saya antusis hari itu buat masuk. Bangunan lama ini digunakan untuk edukasi kopi. Pengunjung bisa meracik atau menyeduh kopi dari barista. Saya nggak sempet nyobain sih, banyak bapak-bapak saat itu.

Kita bertiga juga melipir ke tempat oleh-oleh kopi yang masih dalam satu gedung. Pilihan kopinya juga banyak, namun akan lebih baik beli kopi khas Blitarnya. Selain itu ada olahan kopi yang dijadikan permen. Sepanjang mata memandang hanya berjajar kopi. Saya sih nggak beli, lagi nggak ada duit hahaha. Kapan-kapan ajah melipir ke sini lagi.

Melipir ke bangunan sampingnya, si bangunan buat ngolah kopi. Ada mesin penggiling kopi dan peralatan besar lainnya. Saya demen nih ke tempat seperti ini sembari bayangin, seperti apa ya mereka memproduksi kopi? bangunan lama seperti ini khas banget apalagi bangunan peninggalan Belanda. Hawanya beda hehe.

Setelah Gemi berbelanja, kita melanjutkan ke Rumah Lodji. Merupakan rumah pemilik kebun kopi,, yang kini memang sudah tidak dipakai dan dijadikan museum. Awal kali ke sini, saya masih bisa leluasa masuk ruangan. Tapi, kemarin banyak spot yang nggak boleh kami masuki. Setidaknya saya udah pernah tahu hehe.

Oke…. setelahnya saatnya kita melipir ke kedai kopi milik Kebun Kopi Kanganjar. Kalau kalian pecinta web seris Indonesia, ini jadi salah satu lokasi syuting Yakin Nikah 3 lo. Saya sama Gemi pesen ice Cafe Latte seharga 20 ribu. Memilih menikmati kopi di bagian teras. Ada satu rak buku yang sempat saya tengok. Ee tapi ujung-unjungnya nggak ada buku yang memikat hati.

Untuk tempat sekeren ini, bersejarah seperti ini, sayang saja penyajian kopinya pakai gelas plastik. Mengurangi nuasan tempo dulu gitu. Dan pasti makin banyak sampah plastik yang diproduksi. Sayang saja gitu. Untuk si latte sih biasa saja bagi lidah si amatir ini hehe.

Buat saya berkunjung ke tempat seperti ini lebih bikin adem hati dan pikiran. Jalan-jalan itu butuhnya menyegarkan otak kan? Saya bakal rekomendasiin buat temen-temen untuk ke sini juga selain Makam Bung Karno dan Istana Gebang jika sedang berkunjung ke Blitar

Oh ya, pulangnya kita nggak jadi nyobain gelato, rame banget soalnya. Kita udah  umpek duluan. Dan akhirnya melipir ke Senyawa, kedai langganan. Lumayan lama sih di sana, neduh sekalian. Gemi ketinggalan kereta juga dan akhirnya dia pulang malam hehe.

Tinggalkan Balasan