Pendakian Pertama di Tahun 2020 Kawah Ijen : Mengunjungi Air Terjun Jagir Sebelum Pendakian

Pendakian Pertama di Tahun 2020, Kawah Ijen Mengukir Cerita

Hari yang ditunggu telah tiba, mengabadikan momen liburan ke Ijen dua minggu lalu. Mulai dari sekarang . . .

Saya nggak ingat pasti siapa yang punya ide buat ke Ijen. Sebagai kaum yang sukanya manut alias ngikut saja, saya ngeiyain ajah. Keseringan saya ngopi, gabung sama mereka, jadi punya temen buat jalan-jalan lagi. Soalnya temen-temen deket juga pada sibuk dengan aktivitasnya sendiri sedangkan saya mahasiswa sih masih banyak longgarnya. Ya semua berawal dari obrolan saat ngopi.

Saya kira sih nggaj jadi berangkat karena menjelang tanggal yang ditentukan, nggak ada omongan lagi. Malahan saya sama Tutut rencana ke Pacitan saja. Akhirnya seminggu sebelum keberangkatan baru deh disepakati kita jadi berangkat. Jujur, ini pendakian pertama saya. Saya gerogi dan bingung mempersiapkan apa saja. Ya walau katanya nggak seserem pendakian ke gunung lain. Saya banyak tanya ke temen yang udah ke sana, saking nggak tahu harus persiapkan apa ajah. Terkesan berlebihan hahaha . . .

Seminggu sebelum berangkat saya juga nggak persiapan olahraga, kata temen sih persipkan fisik. Emang dasar Vera ya, males mulu kerjaannya. Oke, semua cerita ini akan mengalir saja. Lebih ke cerita pribadi untuk menyimpan momen kemarin.

Baca Juga : Memulai Olahraga

Ijen … saya sendiri nggak punya rencana buat ke sana. Kepikiran saja nggak. Makin ke sini saya makin males buat bepergian jauh karena juga kadang jarang ada temen. Eee ketemu mereka jadi ada temen main agak jauhan. 

Ijen … saya nggak nyangka awal tahun ini saya bisa sampai puncak. Menjadikan salah satu momen berkesan pertama di tahun ini. Bersama mereka orang-orang baru buat saya, tapi sabar banget ngedampingi saya buat sampai ke atas.

24 Januari 2020

Kita berangkat tanggal 24 Januari kemarin. Perjanjian awal bernagkat jumat malam pukul 7 ee molor sampai pukul 9 malam. Jujur saja, saya bete banget malam keberangkatan itu. Nggak tepat waktu alias ngaret! Sebel jelas! Asli malam itu saya udah bete banget, malah sempet nggak mau berangkat. Malahan, adek yang awalnya ikut jadi nggak ikut karena udah bete. Ya semua nggak dikomunikasikan, itu salahnya.

Setelah dibujuk rayu akhirnya saya berangkat, tapi dengan perasaan dongkol luar biasa. Mungkin orang yang nggak pernah lihat saya marah pasti sungkan. Sepanjang jalan saya hanya diem, tidur, gitu doang. Nggak mau ngomong. Saya sempat menobatkan perjalanan kala itu adalah perjalanan memuakkan! Asli! Di beberapa pemberhentian kedongkalan dan bete saya nggak reda, mending saya menyendiri daripada tambah bete pikir saya.

25 Januari 2020

Shubuh itu sampai mana ya, Bondowoso kalau nggak salah. Berhenti buat salat shubuh. Melanjutkan perjalanan sebentar dan beristirahat lagi yang kala itu udah berada di kawasan Ijen. Di situ kita istirahat, menikmati terik pagi yang hangat karena udara juga udah mulai dingin. Pendakian kita malam hari, jadi hari itu kita putuskan buat ke destinasi lain sembari menunggu waktu.

Kita ke Air Terjun Jagir berjarak kurang lebih 45 menit dari kawasan Ijen dengan mobil. Jalanan pegunungan yang sempit, berkelok, dan curam. Memang harus hati-hati mengendarai kendaraan karena 2 kali kita melihat mobil mogok dan pengendara sepeda motor yang jatuh dikarenakan rem motor blong. Serem, memang harus berhati-hati.

Sampai di Air Terjun jagir kurang lebih pukul 8 pagi. Sebelum turun saya mandi dulu karena udah nggak enak ini badan.

Keunikan Air Terjun ini nggak cuma hanya 1 air terjun, ternyata di kawasan ini terdapat 3 air terjun. Berlokasi dekat sekali dengan perkampungan penduduk bahkan saat terun menuju lokasi kita melewati rumah penduduk (air terjun berada di bawah rumah penduduk). Air terjun pertama lebih di kenal dengan air terjun kembar, banyak wisatawan bahkan anak kecil bisa berenang di sumbernya. Air terjun kedua dan ketiga saya nggak ngeh namanya (sudah saya cari juga di internet, kalau ada yang paham boleh komentar). Air terjun terakhir debit airnya cukup keras, saya nggak berani dekat-dekat, hanya menikmati saja.

Oke setelah dari air terjun, istirahat, makan, sholat, dan ngobrol sore hari kita baru menuju Ijen lagi. Sampai sana kurang lebih pukul 3 sore, turun dan segera menikmati suasana sekitar. Kita memang nggak berniat sewa penginapan, alhamdulillah di sekitar sana banyak tempat istirahat. Warung-warung di kawasan wisata Kawah Ijen menyediakan petak untuk istirahat para pendaki. Sore sampai malam hari, kita habiskan untuk ngobrol sembari menghangatkan diri depan api unggun.

Saya sendiri tidur bentar dan pukul 11 malam bangun bersiap untuk mendaki. Pendakian ke Kawah Ijen dibuka mulai pukul 1 dini hari sampai pukul 12 siang saja. Tiket masuk hanya 7 ribu rupiah saja. Ada beberapa hal yang harus kamu tahu saat pendakian malam itu …

Tunggu di postingan selanjutnya ya supaya nggak kepanjangan. Maklum kalau udah cerita tak terhankan alias nerocos.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *