Pendakian Pertama di Tahun 2020, Kawah Ijen Mengukir Cerita

Ai Terjun Jagir benar-benar jernih ya. Berlama-lama bermain air, menenggelamkan kaki dan bermain sama ikan-ikan kecil di sana bikin suasana tenang dan bikin happy. Cukup bikin mood saya membaik hari itu dan cerita pendakian akan di mulai dari itu. Siap dengan mood yang cukup baik, nggak bete lagi sama mereka. Jadi gimana ceritanya?

Ada baiknya kalian baca dulu bagian pertama ya di sini #emangmaksa.

25 Januari 2020

Ijen dingin, tapi mencoba saya tahan-tahan. Setelah sampai, saya jalan-jalan di sekitar, sengaja nggak pakai jaket dulu biar terbiasa. Mau mandi sore ya jelas nggak berani hihi. Sore itu kita habiskan ngobrol di depan api unggun. Pemilik warung tempat kita istirahat juga ramah, menemani kita sembari kasih wejangan sebelum pendakian.

Nasi goreng dan segelas kopi bikin tambah komplit suasana hangat sore itu. Nikmat banget, perut kenyang mood juga makin baik hihi. Makin malam jelas makin dingin, berganti pakaian dobel menahan dingin. Kita cukup lama bercengkrama sembari menghangatkan diri. Haha, jangan ditanya mood saya yang kemarin hancur, sebel, dah nggak karuan malam ini lumayan oke.

Si pemilik warung juga kasih wejangan ke kita mengenai beberapa hal sebelum pendakian. Saya sendiri masih gerogi, agak takut sih. Ini pengalaman pendakian pertama saya. Walau nggak terlalu tinggi, tapi ya gimana rasa cemas tetap menyelimuti. Intinya kita nggak boleh panik. Enjoy saja, teman naik juga banyak. Haha segini banget yaa kecemasan saya.

Oh ya yang harus diperhatikan juga, kita harus siap masker buat turun ke kawah dan kita emang mau lihat blue fire yang terkenal itu. Jujur saja, waktu si bapak cerita saya rada was-was. Kira-kira saya bisa nggak ya sampai kawah dan nahan asap dan bau belerang. Di sana banyak disewakan masker khusus gitu. Setidaknya lebih aman dari masker biasa, kain, atau buff yang kita punya. Harga sewanya 25 ribu, tapi kemarin kita bersembilan dapat 20 ribu hihi.

Kita mendaki bersembilan, awalnya memang kita berangkat dari Bitar hanya 6 orang. Ternyata temen kita nyusul sama temen satu lagi. Dan di sana rombongan kita kenal sama satu orang Jakarta yang akhirnya ikutan bareng sama kita.

26 Januari 2020

Pukul 12 malam semakin mendekati jam untuk mendaki. Antara nggak percaya diri dan antusias hehe. Kita foto dulu haha, asli ya saat deg-degan gini masih bisa foto. Kalau kesemua temen sih saya yakin fisik mereka oke, udah ada yang pernah ke sini juga dan kesenangan naik gunung. Wajar saja saya deg-deg an.

Dan pukul 1 dini hari …

Oh ya, jalan pendakian ke Kawah Ijen kalau menurut saya udah enak. Berkelok naik turun (yaelah, kan emang gitu Ve). Tapi, ya tetep hati-hati kalau hujan licin banget karena tanah. Untungnya saat itu cuaca cerah alias nggak hujan.

Oke drama dari saya dimulai beberapa meter saat baru ajah naik. Saya berhenti atur napas. Jujur, saya bingung mau napas pakai hidung atau mulut. Gini ya? asli drama! Napas ajah pakai mikir. Tapi, beneran rasanya engap kek ikan nggak ada air, kek nggak ada oksigen. Dalam pikiran saya saat itu, apa saya nggak ikutan naik ya? cupu kan? asli! Karena emang beneran saya susah buat napas.

Tapi, karena semua temen ngeyakinin dan kasih semangat saya mau lanjutin. Pikir saya, eman juga sih udah sampai sini. Kita jalan pelan banget, sering berhenti, itu semua karena saya. Maaf dan makasih banget kalian rela nungguin dan berlama-lama. Saya yakin kalian lebih kuat dari itu.

Singkat cerita udah sampai puncak. Asap belerang udah mulai tercium, entah kenapa saat itu lagi-lagi saya berhenti, temen-temen buat lingkaran benerin masker punya saya. Memang saat itu bersiap buat ke kawah, tapi hati saya kok nggak karuan. Tetiba temen tanya, gimana mau turun? Saya jawab dengan geleng-geleng.

Saya berdua sama temen nungguin mereka. Saat itu saya kedinginan banget hampir menggigil hebat. Si temen (saya panggil mas) jagain saya. Mulai nyari tempat pewe, mewanti-wanti agar saya nggak tidur di saat kedinginan, kasih saya mantel karena saat itu bener-bener dingin sampai buat saya nggak berkutik.

Hingga matahari mulai nampak, semua udah kumpul, foto bentar dan turun. Oh ya, nggak tahu kenapa kaki saya saat itu sakit banget. Jadi, yang harusnya kaki buat tumpuan saat turun malah jadi drama lagi. Sakit banget kaki sebelah kiri. Lagi-lagi saya paling lambat, turun dengan sangat kepayahan.Temen sempat videoin saya harus turun dengan cara mundur. Heemmmm …..

Okee, saya ke sana tapi nggak ke kawah, nggak lihat blue fire. Mungkin kalian akan bilang, duh rugi! udah sampai sana masa nggak ke kawah?

Saya udah cukup puas, bangga, bahagia sampai sini saja. Saya sudah melawan diri buat sampai ke atas. Dan perjalanan kemarin, saya hanya menikmati lukisan Tuhan. Perjalanan ke Banyuwangi, ke Ijen menyurutkan hasrat saya buat foto-foto (dapat foto saja karena dipaksa hihi). Pyurrr saya hanya menikmati, terima kasih Vera dan terima kasih kalian atas perjalanan yang saya anggap emang memuakkan tapi berakhir nano-nano indah.

Sebenarnnya masih banyak yang ingin saya ceritakan, tapi ada daya nanti kalian bosan haha. Janji pada diri sendiri, harus rajin olahraga ! pret!

Ada yang punya pengalaman ke Ijen juga? Bagiin di kolom komentar dong hihi . . .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *