Bersepeda untuk Ngopi : Menuju Limang Kopi Tulungagung

Semenjak tatanan baru (new normal), saya udah mulai bisa keluar ke tempat yang saya mau. Kalau kalian tahu, tempat yang sering saya kunjungi tuh nggak jauh-jauh sama kopi alias kedai kopi karena saya emang lagi seneng suasana sebuah kedai kopi. Iya iya, dengan tetap mematuhi protokol kesehatan ye.

Baca Juga : Koneksi Blitar, Kedai Kopi Nuansa Jawa Modern

Nulis kalau nggak dengan curhat tuh, bukan Vera banget yekan! Tiap kali bersepeda nggak ngerti kenapa, ujung-ujungnya selalu berlabuh ke kedai kopi. Emang kebetulan tuh temen-temen juga anak kopi alias pecinta kopi. Ya, jadi bisa dipastikan menjadi “bersepeda untuk ngopi” hihi.

Minggu kemarin, 23 Agustus kami memutuskan untuk bersepeda dengan rute aman alias nggak pakai nanjak. Iya sih nggak pakai nanjak, cuma jauh juga rutenya. Nggak main-main alias kami sepakat untuk bersepeda ke tetangga, Tulungagung. Tapi, jarak yang kami tempuh nggak sesimpel itu. Dasar emang temen-temen tuh, mentang-mentang pada jadi budak strava, arah ke Tulungagung pun bisa muter-muter ke mana dulu gitu biar jauh. Au ah! saya sebagai penikmat kayuh lagi-lagi yang ngikut doang.

Lokasi Linang Kopi , Numpang Foto Doang hihi

Feeling saya lagi bagus hari itu, lumayan semangat ikutan anak-anak ngayuh sampai Tulungagung. Saya udah mulai biasa kalau mereka pada kasih rute jauh atau rutenya tuh sering pakai kejutan alias sekenanya.

Kami berkumpul di Alun-Alun Blitar pukul 6 pagi. Saya udah goes dari rumah pukul setengah 6. Yah, kalau nggak ngaret bukan kami yekan. Sebenarnya saya juga rada was-was, kira-kira saya bisa nggak ya sampai tujuan. Karena dah dua mingguan lebih nggak ngayuh sama sekali. Eee tetiba rutenya dah jauh aja ke ujung kulon. Ya balik lagi, karena suasana hati lagi baik, saya tetap yakin buat maju sih.

Jadi, kalau ke TA tuh kan ke karah barat, kami tuh ke arah timur dulu. Ya emang pada cari km alias jarak. Rutenya kira-kira begini sebelum ke tujuan utama. Oh ya, sampai lupa tujuan utama kami adalah ke Limang Kopi Ngunut, Tulungagung. Benerkan, judulnya bersepeda untuk ngopi.

Dari Alun-Alun Blitar ke arah timur, singkatnya Alun-Alun-Garum-Kanigoro-Kademangan-barulah ke Tulungagung. Yeekan muter-muter dulu ,herannya ya tetep ngikut ajah saya tuh, walau kembali selalu paling belakang. Ada temen sih yang ikut naik motor, jaga-jaga kalau ada yang nggak kuat terutama gantiin saya hihi.

Lokasi Linang Kopi , Numpang Foto Doang hihi

Sepanjang jalan saya makin belajar banyak teknik buat goes, intinya sih supaya lebih enjoy dan nggak ngerasa berat alias ngoyo banget saat goes. Terima kasih lo mentor wkwkw. Menuju ke Tulungagungnya saya udah mulai ngerasa capek, kaki bagian kiri udah mulai nut-nutan ditambah dengan terik matahari yang nggak main-main. Udah mulai melemah dan makin melambat kecepatan kayuh saya.

Lumayan banyak berhenti untuk ambil napas dan minum huhu. Sampai pada gantian sih yang berada di samping atau di belakang saya, buat mantau si diri ini tetep lurus pada jalan yang tepat. Dalam hati, saya nguatin diri sendiri walau banyak nggak fokus karena beberapa kali sempet keserempet dan ditubruk kendaraan (Mas Kharis yang sering mergokin), kalau nggak gitu jalurnya udah nggak bener, sampai minggir-minggir saking nggak fokusnya itu hih.

Lokasi Linang Kopi , Numpang Foto Doang hihi

Nggak boleh gantian! bisa sih sampai tujuan, pasti bisa!, batin saya. Kami memang sama-sama pertama kali ke Limang Kopi. Ya, masih ngikutin si tuan map membawa kami untuk sampai ke tempat tujuan. Dan pas nyampek rasanya bangga alias puas. Walau kaki dah sempoyongan alias terseok-seok.

Lokasi Linang Kopi , Numpang Foto Doang hihi

Saya seribu sayang, kami nyampai sana pukul 9 pagi dan si kedai kopi belum buka. Nggak tahu sih buka jam berapa tepatnya, katanya sih pukul 9 eee ternyata belum buka. Alhasil kami duduk berleha-leha sembari melepas lelah dan tentunya berfoto-foto. Tak apelah setidaknya dah nyampek dan foto di Limang Kopi biar kek judulnya, bersepeda untuk ngopi yekan.

Setelah cukup beristirahat kami melanjutkan perjalanan alias pulang. Memilih untuk menyebarang menggunakan perahu biar nggak ngayuh tambah jauh (ya bagi saya tetep jauh). Terima kasih teman-teman, sungguh bermurah hati pada di anak baru ini. Dan kemudian kami menemukan tempat makan. Kenyang dengan nasi pecel dan didinginkan si tenggorokan oleh es teh manis.

Perjalanan berlanjut ke salah satu kedai kopi yang searah rute pulang. Tapi, panasnya matahari bikin makin loyo di sepanjang jalan. Ngayuh serasa nggak ada ujungnya hiks. Padahal udah mau nyampek tempat tujuan, tapi jujur kaki saya udah ngerasa sakit banget ditambah panasnya itu lo. Alhasil nebeng buat ditarik temen, si Bagas. Karena si lambat ini teteplah lambat, akhirnya juga sempat didorong temen, Munib. Walau penuh drama, akhirnya bisa ngadem di kedai kopi tujuan akhir kami.

Sekian drama bersepeda Vera. Minggu ini ke mana? entahlah hihi . . .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *