Tentang Kebahagiaan Diri

Berbicara soal kebahagiaan, itu juga lumayan kompleks ya. Dan setiap dari kita memiliki standar bahagia masing-masing. Cara untuk bahagia dari masing-masing orang juga berbeda. Cukup dengan saya duduk sembari meneguk kopi serta menenggelamkan diri dengan buku pun telah membuat saya bahagia. Pun, dengan berlibur ke berbagai daerah di Indonesia juga cukup membuat dia bahagia. Bahagia dengan pilihan dan caramu sendiri.

Katanya bahagia sesungguhnya dengan kamu dapat “mengenali dirimu sendiri”. Jadi, apakah selama ini kamu belum mengenal diri sendiri? entahlah, tapi selalu ada pancarian diri dari setiap napas kehidupan ini. Begitu pula saya.

Ada dalam diri yang tak pernah saya kenali, ada dalam diri yang tak pernah saya perhatikan, dan ada dalam diri yang selalu saya liputi keegosian. Saya telah menzolimi diri dengan hal yang ternyata jauh dari kata bahagia untuk diri ini. Semua berproses, semua harus dijalani dengan atau tanpa liku-liku. Bukankah begitu?

Apakah kita atau saya benar-benar sedang tak tahu arah? sampai harus menemukan dan mengenali diri sendiri? jadi bagaimana?

Kenyataanya itu bukan sebuah bualan, kenyataanya kadang kita sangat jauh akan diri. Kita terlalu sering mengikuti langkah orang lain, sampai-sampai nyasar. Bahagia yang sesungguhnya pun juga nyasar, akhirnya ikut jalan orang lain yang inginnya ikutan seneng jadi makin terbebani.

Pada postingan ini akan banyak kutipan soal “mengenali diri sendiri” dari buku yang pernah saya baca. Mungkin hanya dari dua buku yang bisa saya bagikan juga di sini karena kedua buku ini baru saja saya baca dan beberapa masih melekat walau harus nyontek.

A Cup of Tea (Gita Savitri Devi)

“Gue merasa akar dari kebahagiaan adalah rasa syukur dan jujur terhadap diri sendiri.” (halaman 103). Kapan terakhir kali kita bersyukur? alhamdulillah sampai detik saat ini tak lupa berucap syukur. Namun, sudah mampukah kita jujur pada diri sendiri?

“Gue jadi lebih bisa secara kritis dan objektif memilah-milah mana yang penting buat diri gue dan mana yang nggak. Hal apa yang bisa gue investasikan dengan waktu dan tenanga dan mana yang tidak.” (halaman 136). Entah berapa kali kita terlalu menyibukkan dan mementingkan kepentingan orang lain di atas kepentingan kita sendiri. Hasilnya? waktu untuk diri sendiri pun serasa begitu cepat lenyap sampai kita lupa bagaimana kita harus berbahagia atas diri sendiri.

“Terus tumbuh dan bertumbuh sampai gue tutup usia.” (halaman 150). Selama kita masih mampu, terus berusaha untuk tetap bertumbuh. Itulah cara untuk mengenali diri. Tetap hidup dan menjalani kehidupan.

Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya (Rusdi Mathari)

Matikan nafsumu, kenali dirimu. “Manusia diminta mematikan terlebih dulu nafsu-nafsu mereka sebelum jasad mereka mati. Setidaknya agar nafsu mereka pernah merasakan kematian.” (halaman 161).

Semoga kita senantiasa peka dengan diri sendiri. Bahagia selalu semua. Selamat beristirahat . . .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *